Ditenagai Mesin Baru, Jet Tempur Rusia Su-57 Terbang Perdana

2026-01-11 03:13:51
Ditenagai Mesin Baru, Jet Tempur Rusia Su-57 Terbang Perdana
MOSKWA, – Perusahaan pertahanan milik negara Rusia, Rostec, pada Senin mengumumkan bahwa jet tempur generasi kelima Su-57 untuk pertama kalinya terbang menggunakan mesin baru bernama “Produk 177”.Mesin baru ini diklaim lebih bertenaga dan efisien dibandingkan mesin sementara yang digunakan pada versi awal Su-57.Uji terbang itu dilakukan oleh pilot uji Roman Kondratyev dan, menurut Rostec, berlangsung normal tanpa kendala.Baca juga: China Simulasi Perang, Adu Kekuatan Jet Tempur J-16 dengan Rafale Buatan PerancisDimulainya uji terbang ini dinilai signifikan karena pengembangan mesin sejak lama menjadi hambatan utama program Su-57.Pesawat produksi awal sebelumnya masuk dinas dengan mesin sementara, sambil Rusia terus mengembangkan desain yang lebih maju.Mesin baru diharapkan mampu menghasilkan daya dorong lebih besar, efisiensi bahan bakar yang lebih baik, serta umur pakai yang lebih panjang.Menurut Rostec, mesin Produk 177 mampu menghasilkan daya dorong hingga 16.000 kilogram-gaya atau sekitar 35.000 pon daya dorong saat menggunakan afterburner.Selain itu, mesin ini diklaim memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih rendah dan daya tahan yang lebih baik.Mesin tersebut dikembangkan oleh United Engine Corporation, anak perusahaan Rostec, khusus untuk sistem pesawat generasi kelima.X.com @GuyPlopsky Ilustrasi jet tempur siluman Rusia, Su-57.Pejabat Rusia menyatakan, mesin baru ini diharapkan dapat semakin meningkatkan performa terbang Su-57 sekaligus menjadi fondasi bagi peningkatan di masa depan.Su-57 dirancang sebagai jet tempur multiperan yang mampu menyerang target udara, darat, dan maritim.Baca juga: Demi Bisa Beli Jet Tempur F-35 AS, Turkiye Disebut Akan Kembalikan S-400 RusiaPesawat ini dilengkapi ruang senjata internal, desain berpenampang radar rendah, serta tingkat otomasi tinggi untuk mengurangi beban kerja pilot.Su-57 pertama kali terbang pada 2010 dan diproyeksikan sebagai jawaban Rusia terhadap jet tempur generasi kelima Amerika Serikat seperti F-22 dan F-35, serta J-20 buatan China.Namun, keterlambatan pengembangan, keterbatasan pendanaan, dan tantangan produksi membuat jumlah pesawat yang dikirimkan relatif kecil.


(prf/ega)