- Media sosial X diramaikan dengan perdebatan mengenai parents' money atau uang orangtua yang kini kerap dilabeli negatif.Awalnya, akun @k**e menyoroti fenomena warganet yang tampak kesal ketika anak mengikuti bimbel mahal sebagai fasilitas pendidikan dari uang orangtuanya. “Agak oot but why are most Indonesian people bitter about ‘parents' money’? I mean, for whom else do parents work for if not their families? for their children?” pada Sabtu .Lantas, mengapa parents’ money kini kerap dilabeli negatif?Baca juga: Dokumenter Ungkap Masa Lalu Orangtua Jackie Chan yang Tak BiasaSosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono mengatakan, pembahasan parents’ money tidak bisa dilepaskan dari konsep yang lebih besar dalam sosiologi ekonomi.Menurutnya, uang sejak dulu berfungsi sebagai alat tukar. Namun, seiring perkembangan zaman, fungsinya bergeser menjadi alat kekuasaan dan kendali.“Sekarang uang itu bukan sekadar alat tukar tapi pertambahannya uang itu bisa jadi alat kekuatan, alat menguasai dan mengendalikan orang lain,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu .Ia menjelaskan, apa yang disebut warganet sebagai parents’ money sebenarnya masuk dalam konsep relasi ekonomi antargenerasi, yakni hubungan finansial antara generasi tua (orang tua) dan generasi muda (anak).“Parents money adalah pemanfaatan uang dalam rangka membiayai tumbuh kembang anak,” jelasnya.Baca juga: Fenomena Cerai Baik-baik atau Adult Divorce di Kalangan Artis, Ini Kata SosiologRelasi ini pada dasarnya bisa berdampak positif maupun negatif, tergantung bagaimana keluarga mengelola uang tersebut.Ia mencontohkan, ketika orang tua sejak awal mengalokasikan dana pendidikan untuk anak, dari SD, SMP, SMA, hingga kuliah, hal itu merupakan bentuk parents’ money yang sehat.Namun, pada sebagian keluarga, alokasi tersebut tidak selalu berjalan ideal, terutama ketika kondisi ekonomi terbatas atau muncul kebutuhan mendadak.“Dalam beberapa kondisi, alokasi-alokasi seperti ini tidak dijaga dengan baik. Misalnya uang tabungan pendidikan adiknya dipakai untuk kebutuhan lain atau 'memantukan' anaknya besar-besaran,” tutur dia.Situasi seperti ini menimbulkan ketimpangan dalam keluarga, terutama ketika hanya satu anak yang mendapatkan dukungan finansial penuh, sementara anak lainnya tidak.Baca juga: Perceraian di Indonesia Didominasi Gugatan dari Istri, Kenapa Bisa? Ini Pandangan SosiologDrajat menyebutkan, munculnya sentimen negatif terhadap parents’ money berasal dari pengalaman nyata sebagian anak yang merasa mendapatkan perlakuan tidak adil di rumah.
(prf/ega)
Ramai Diperbincangkan, Mengapa Istilah "Parents Money" Kini Dilabeli Negatif?
2026-01-12 17:04:11
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 17:26
| 2026-01-12 17:05
| 2026-01-12 16:20
| 2026-01-12 16:17
| 2026-01-12 15:39










































