Kakek Prabowo Jadi Nama Gedung di Purwokerto, Ketum Muhammadiyah: Diharapkan Jadi Pusat Kajian Ekonomi

2026-01-16 09:41:34
Kakek Prabowo Jadi Nama Gedung di Purwokerto, Ketum Muhammadiyah: Diharapkan Jadi Pusat Kajian Ekonomi
PURWOKERTO, - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, membangun megatorium yang diberi nama Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto.Gedung serbaguna yang berada di kompleks Kampus 2 UMP ini diharapkan akan menjadi pusat kajian ekonomi seperti yang menjadi dasar pemikiran Margono Djojohadikusumo."Ada harapan dan cita-cita agar menjadikan gedung ini menjadi pusat kajian ekonomi yang menjadi dasar perekonomian Indonesia dari kakek Presiden Prabowo," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir saat peletakan batu pertama pembangunan gedung tersebut, Senin .Baca juga: Pesta Kembang Api di Menara Teratai Purwokerto pada Malam Tahun Baru DibatalkanHaedar menyebut, ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo juga merupakan sosok yang sangat berjasa terhadap perekonomian di Indonesia. Ketiga sosok tersebut berdarah Banyumas."Saya pikir gagasan besar Pak Presiden ini nyambung dengan ayahnya dan kakeknya, yang juga menjadi pendiri dan cikal bakal dari Bank Negara Indonesia (BNI), ini menjadi program strategis kita ke depan," ujar Haedar.Baca juga: Helipad Dibangun 1,6 Km dari Makam Kakek Prabowo, Warga Desa Kalisube Banyumas Sambut PositifHaedar berharap konsep perekonomian yang digagas Presiden Prabowo akan berdampak positif terhadap masyarakat."Kita berharap gagasan Pak Presiden ingin menjadikan ekonomi kita itu ekonomi kerakyatan berbasis konstitusi. Kita akan menuju kemandirian dan kedaulatan rakyat dan bisa menjadi sejahtera," kata Haedar.Menurut Haedar, masyarakat tidak perlu memperdebatkan konsep perekonomian."Daripada kita terus berdiskusi memperdebatkan konflik-konflik ekonomi, antara yang orientasi oligarki dan kerakyatan, saya yakin dorong negara ini untuk punya kekuatan mengelola sistem ekonomi kerakyatan berbasis konstitusi Pasal 33 yang sering menjadi dasar bagi Pak Presiden Prabowo," ujar Haedar.Sementara itu, Rektor UMP Prof Jebul Suroso mengatakan, Megatorium Margono Djojohadikusumo dirancang sebagai pusat berkumpulnya para peneliti dan ilmuwan, khususnya di bidang ekonomi dan kerakyatan."Tempat ini berfungsi untuk tempat berkumpulnya para peneliti ilmuwan khususnya bidang ekonomi dan kerakyatan memperbincangkan konsep ilmu yang dilahirkan oleh Margono, Soemitro dan seterusnya," jelas Jebul.Selain sebagai pusat kajian, megatorium tersebut juga akan difungsikan sebagai hall untuk kegiatan besar seperti wisuda dan pertemuan akbar.Gedung ini dirancang mampu menampung hingga 8.000 orang. Menurut Jebul, penamaan Margono Djojohadikusumo dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat bagi Banyumas dan dunia ekonomi."Alasannya nama ini diambil karena Banyumas banget, ekonomi banget dan itu harus digali karena itu mulai kurang terkenal padahal pemikirannya sangat keren," kata Jebul.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Angkringan Balap Paseban viral karena keragaman menu dan suasananya yang selalu ramai.Menu andalan berupa nasi kucing dengan pilihan lauk seperti tempe, sambal usus, sambal teri, hingga ayam geprek menjadi favorit pengunjung.Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, berkisar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per item. Angkringan ini buka mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.Tingginya minat pengunjung membuat antrean kerap terbentuk bahkan sebelum jam buka. Datang lebih awal menjadi strategi utama untuk mendapatkan tempat duduk dan pilihan menu yang masih lengkap.Mangut Lele Mbah Marto menjadi representasi kuliner tradisional Yogyakarta yang bertahan di tengah tren kekinian.Warung ini dikenal dengan konsep pawon atau dapur tradisional yang bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.Kompas.com/Silvita Agmasari Mangut lele yang dijual di warung Mbah Marto, Bantul, Yogyakarta.Lele yang digunakan tidak digoreng, melainkan diasap terlebih dahulu dengan tusukan pelepah daun kelapa sebelum dimasak menjadi mangut.Metode pengasapan ini menghasilkan aroma khas dengan cita rasa manis dan gurih yang kuat. Mangut lele disajikan dengan kuah santan pedas yang menjadi ciri khas masakan tradisional Jawa.Baca juga: Itinerary Kulineran Serba Legendaris di Yogyakarta Bujet Rp 150.000Mangut Lele Mbah Marto berlokasi di Jalan Sewon Indah, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Sewon, Bantul.Warung ini buka mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Harga mangut lele dibanderol sekitar Rp 25.000 per porsi. Karena peminatnya tinggi, pengunjung disarankan datang lebih awal agar tidak kehabisan.Bagi pencinta kuliner pagi, Sate Koyor Yu Ira menjadi tujuan wajib. Warung sederhana ini telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan berlokasi di kawasan Pasar Ngasem, pusat aktivitas warga sejak dini hari.Tribun Jogja/Hamim Thohari Sate koyorMenu andalannya adalah sate koyor, bagian urat sapi yang diolah hingga empuk dan kaya rasa.Harga sate koyor dibanderol mulai Rp 10.000, menjadikannya pilihan terjangkau bagi pengunjung pasar maupun wisatawan.Warung Yu Ira buka mulai pukul 05.00 hingga 15.00 WIB. Waktu paling ramai terjadi pada pagi hari, seiring aktivitas pasar yang padat.Datang sebelum pukul 09.00 WIB menjadi waktu ideal untuk menikmati menu favorit tanpa harus menunggu lama.

| 2026-01-16 08:51