INDRAMAYU, - Nama Mama Soegra diabadikan sebagai gelar penghormatan untuk Gedung Kesenian di Jalan Veteran Indramayu.Penamaan itu bukan tanpa alasan. Soegra merupakan sosok penting yang pertama kali mempopulerkan musik tarling, seni musik khas Indramayu yang bertumpu pada permainan gitar dan suling.Kisahnya turut diabadikan dalam buku berjudul Mama Soegra: Dari Gitar Belanda yang Berdenting Terlahir Seni Tarling yang ditulis oleh budayawan Supali Kasim.Untuk sejarah awal lahirnya musik Tarling ini, diketahui memiliki kisah yang unik.Baca juga: Hasil Investigasi Selesai, Polisi Ungkap Penyebab Kecelakaan yang Tewaskan Atlet Bulu Tangkis Muda IndramayuMenurut seorang seniman senior, Adung Abdulgani menjelaskan, kisah itu berawal dari ayah dari Mama Soegra yang kala itu kedatangan tamu orang Belanda di rumahnya di Kelurahan Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu sekitar tahun 1930-an.Ayah Soegra sendiri dikenal luas menguasai laras gamelan atau bunyi-bunyian. Orang Belanda itu kemudian meminta bantuannya memperbaiki gitar milik dia yang rusak.Meski gitar sudah selesai diperbaiki, tapi orang Belanda itu tidak datang lagi untuk mengambilnya.“Dari gitar itu lah dipakai oleh Soegra, dia kemudian memigrasikan bunyi di gamelan ke gitar. Dulu itu gak ada gitar mas, adanya gamelan, sama beliau dipakai lah gitar untuk mengiringi kiser (lagu), gak lagi pakai gamelan,” jelas Adung yang juga merupakan Ketua Lembaga Musik Seniman Pantura (L-Musentra) saat ditemui di Gedung Kesenian Mama Soegra Indramayu, Minggu .Baca juga: Senyum Lebar Daryanto di Indramayu, Coba Becak Listrik dari Prabowo: Digas Langsung Jalan.../HANDHIKA RAHMAN Patung wajah Mama Soegra pelopor seni musik tarling yang namanya juga disematkan untuk Gedung Kesenian Indramayu di Jalan Veteran Indramayu, Minggu Adung menjelaskan, permainan musik klasik menggunakan gitar oleh Soegra ini dengan cepat mendapat perhatian.Anak-anak muda kemudian menambahkan alunan suling bambu, membentuk warna musik baru yang saat itu belum memiliki nama.Sebagian masyarakat menyebutnya dengan ‘seni melodi’. Hingga di kemudian hari, musik ini lebih populer disebut ‘tarling’, karena bertumpu pada dua alat musik utama, yaitu gitar dan suling.Popularitas tarling pun kian meluas. Orang-orang dari berbagai wilayah, hingga Cirebon, datang ke kawasan Kepandean hanya untuk menyaksikan Soegra bermain tarling. Instrumen ini dianggap istimewa karena tergolong baru pada zamannya.“Jadi gini, dulu itu pusat hiburan di mana pun pasti akan dikerumuni orang. Dari Karangampel, dari Cirebon apa itu datang ke situ untuk nongkrong, nyanyi. Pokoknya pada zaman itu populer sekali, apalagi waktu itu gitar memang merupakan hal yang unik karena baru,” terang dia./HANDHIKA RAHMAN Tugu patung orang bermain gitar dan suling di pertigaan Kelurahan Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Minggu Sekitar tahun 1940-an, musik tarling makin membumi lagi di tengah masyarakat, tak hanya digemari warga lokal, tapi warga etnis Tionghoa yang juga menyukainya.Mereka bahkan merekam tarling yang dimainkan Soegra ke dalam piringan hitam dan terus memutarnya di toko-toko China milik mereka.
(prf/ega)
Kisah Gitar Rusak Belanda yang Jadi Awal Lahirnya Seni Tarling Indramayu dan Nama Gedung Mama Soegra
2026-01-12 03:38:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:06
| 2026-01-12 03:31
| 2026-01-12 03:15
| 2026-01-12 02:14
| 2026-01-12 01:56










































