Bea Keluar Emas Berlaku, Apa Dampaknya bagi Emiten Tambang?

2026-02-04 00:03:50
Bea Keluar Emas Berlaku, Apa Dampaknya bagi Emiten Tambang?
JAKARTA, — Tren kenaikan harga emas yang dinikmati sejumlah emiten berpotensi tertahan. Sebab, pemerintah resmi menetapkan pengenaan bea keluar terhadap barang ekspor, termasuk emas.Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025. Aturan tersebut diundangkan pada 9 Desember 2025 dan berlaku 14 hari setelah tanggal pengundangan.Pemerintah menyampaikan bahwa pengenaan bea keluar atas emas diperlukan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan emas dalam negeri, menjaga stabilitas harga komoditas, serta mendorong hilirisasi mineral.Baca juga: Purbaya Keluarkan Aturan Bea Keluar Emas, Tarif Sampai 15 PersenDalam Pasal 3, tarif bea keluar ekspor emas ditetapkan berdasarkan harga referensi dan jenis emas yang diekspor.Jika harga referensi emas yang ditetapkan Menteri Perdagangan berada di kisaran 2.800 dollar AS per ons troi hingga kurang dari 3.200 dollar AS per ons troi, tarif bea keluar berada pada rentang 7,5 persen sampai 12,5 persen.Jika harga referensi sudah berada pada level mulai 3.200 dollar AS per ons troi, tarif bea keluar menjadi 10 persen hingga 15 persen, bergantung jenis emas yang diekspor.Isu mengenai rencana pengenaan bea keluar untuk ekspor emas sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan November 2025. Ketika itu, mayoritas harga saham emiten emas sempat turun.Baca juga: Harga Batu Bara Terus Melorot, Menkeu Purbaya Akan Terapkan Bea Keluar Namun, pasar tampaknya sudah mengantisipasi terbitnya beleid tersebut. Mayoritas harga saham emiten emas justru bergerak positif pada perdagangan Rabu .BRMS menguat 2,08 persen, ANTM naik 0,34 persen, ARCI 0,36 persen, UNTR 1,69 persen, PSAB 0,92 persen, MDKA 1,79 persen, dan EMAS melonjak 10,97 persen.Sejauh ini, PSAB dan UNTR menjadi contoh emiten produsen emas yang aktif melakukan ekspor.Seluruh penjualan PSAB pada kuartal III-2025 senilai 221,59 juta dollar AS ditujukan ke pelanggan luar negeri, antara lain Metalor Technologies Singapore Pte. Ltd, Beijing Fuhaihua Import and Export Corp Ltd, dan Kewangsa Group Sdn Bhd.Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengatakan secara teoritis pengenaan bea atau pajak akan menggeser kurva permintaan ke kiri sehingga kuantitas penjualan menurun dan harga yang dibayarkan pelanggan meningkat."Margin mungkin akan tertekan jika besarnya pajak ini tidak diteruskan ke konsumen sepenuhnya," ujar Budi, Rabu dikutip dari Kontan.co.id.Baca juga: Ini Alasan Menkeu Purbaya Terapkan Bea Keluar Emas Tahun DepanSenior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kebijakan bea keluar berpotensi membatasi pertumbuhan kinerja emiten emas yang berorientasi ekspor.Padahal, harga emas dunia berpeluang melanjutkan kenaikannya pada 2026 seiring tingginya permintaan dan keterbatasan pasokan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 22:04