Jadwal KA Bandara YIA 14 Desember 2025 dari Pagi sampai Malam

2026-02-03 19:38:50
Jadwal KA Bandara YIA 14 Desember 2025 dari Pagi sampai Malam
- Simak jadwal KA Bandara YIA untuk keberangkatan Minggu, 14 Desember 2025 dari arah Bandara YIA maupun Yogyakarta.Memerhatikan waktu keberangkatan KA Bandara YIA Reguler dan KA Bandara YIA Xpress bisa membantu dalam mengelola jadwal perjalanan Anda.Melayani penumpang yang hendak menjangkau Bandara YIA dengan cepat dan efisien, jadwal KA Bandara YIA tersedia sejak pagi hingga malam hari.KA Bandara YIA Reguler melayani penumpang dengan rute Stasiun Tugu Yogyakarta, Stasiun Wates, hingga Stasiun Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo.Sementara, KA Bandara YIA Xpress berjalan langsung dari Stasiun Tugu Yogyakarta ke Stasiun Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo.Sehingga, perbedaan keduanya adalah waktu tempuh yang lebih singkat, selain juga harga tiket yang berbeda serta pemesanan tiket dengan tempat duduk.Baca juga: Jadwal KA BIAS 12 Desember 2025 Rute Bandara Adi Soemarmo-Solo-Madiun PPPengguna KA Bandara YIA Reguler dan KA Bandara YIA Xpress harus memperhatikan dengan baik jadwal terbaru berikut, sperti dirangkum dari aplikasi Access by KAI.1. Jadwal KA Bandara YIA Reguler Relasi Yogyakarta-Wates-YIABerangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta:04.20 WIB, 05.10 WIB, 06.30 WIB, 08.33 WIB, 08.55 WIB, 12.00 WIB, 12.35 WIB, 14.13 WIB, 15.49 WIB, 16.07 WIB, 18.25 WIB ,19.16 WIB.Berangkat dari Stasiun Wates:04.46 WIB, 05.36 WIB, 06.56 WIB, 08.59 WIB, 09.21 WIB, 12.26 WIB, 13.01 WIB, 14.39 WIB, 16.15 WIB, 16.33 WIB, 18.51 WIB, 19.42 WIB.Tiba di Stasiun Bandara YIA:04.59 WIB, 05.49 WIB, 07.09 WIB, 09.12 WIB, 09.34 WIB, 12.39 WIB, 13.14 WIB, 14.52 WIB, 16.28 WIB, 16.46 WIB, 19.04 WIB, 19.55 WIB.2. Jadwal KA Bandara YIA Xpress Relasi Yogyakarta-YIA


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 17:43