Harga F-35A Naik, Swiss Kurangi Pembelian Jet Tempur AS

2026-01-14 10:37:58
Harga F-35A Naik, Swiss Kurangi Pembelian Jet Tempur AS
BERN, – Pemerintah Swiss memutuskan untuk mengurangi jumlah jet tempur F-35A Lightning II yang dipesan dari Amerika Serikat seiring melonjaknya biaya pengadaan.Keputusan ini diambil agar Bern tetap berada dalam batas anggaran awal sebesar 6 miliar franc Swiss (sekitar Rp 125 triliun).Opsi pembelian pesawat generasi terbaru itu sebelumnya disetujui publik lewat referendum pada 2020.Baca juga: Jet Tempur Thailand Gempur Kompleks Judi Kamboja Habis-habisanNamun, kenaikan biaya membuat target awal sulit dipertahankan. Pemerintah pun memilih menyesuaikan jumlah pesanan demi menjaga disiplin fiskal.Pemerintah Swiss pada Jumat menyatakan telah menginstruksikan Kementerian Pertahanan untuk membeli jumlah F-35A sebanyak mungkin dalam kerangka anggaran 6 miliar franc Swiss.Anggaran tersebut awalnya direncanakan untuk 36 unit jet tempur, angka yang ditetapkan ketika Swiss memilih F-35A sebagai pesawat tempur generasi berikutnya pada 2021.Dok. Dispenau Ilustrasi jet tempur siluman F-35A.Bern semula menganggap nilai 6 miliar franc Swiss sebagai harga tetap untuk 36 jet. Namun, pemerintah Amerika Serikat kemudian menyatakan bahwa pemahaman tersebut keliru.Setelah rapat kabinet, pemerintah Swiss mengakui bahwa mempertahankan jumlah awal tidak lagi realistis.“Karena adanya perkiraan pembengkakan biaya, mempertahankan jumlah yang semula direncanakan sebanyak 36 unit F-35A tidak memungkinkan secara finansial,” kata pemerintah Swiss dalam pernyataannya, seperti dikutip dari CNA, Jumat .Baca juga: Pasien Rumah Sakit Dibombardir Jet Tempur Malam-malam, 31 TewasMeski demikian, kabinet membuka peluang untuk kembali ke target awal jika ada langkah lanjutan guna memperkuat kemampuan pertahanan Swiss.Pemerintah menyebutkan, setelah evaluasi lebih lanjut, kabinet dapat mengambil keputusan yang berpotensi memungkinkan tercapainya kembali jumlah 36 unit.Pemerintah Swiss juga menegaskan komitmennya untuk tetap membeli F-35A, bahkan setelah Amerika Serikat pada musim panas lalu memberlakukan tarif impor sebesar 39 persen terhadap ekspor barang Swiss.Setelah tercapai kesepakatan bulan lalu, Swiss menyatakan pada Rabu bahwa tarif tersebut kini telah diturunkan menjadi 15 persen.Seiring perubahan situasi keamanan global, Kementerian Pertahanan Swiss juga akan mengambil langkah-langkah untuk memodernisasi sistem pertahanan udara.Perencanaan terbaru memperkirakan Swiss membutuhkan antara 55 hingga 70 jet tempur modern.Pemerintah menegaskan bahwa potensi penambahan jumlah pesawat di luar pembelian F-35A akan ditinjau secara terpisah dan tidak bergantung pada jenis pesawat tertentu.Langkah ini, menurut pemerintah, bertujuan memastikan kesiapan pertahanan nasional Swiss di tengah dinamika keamanan yang terus berubah.Baca juga: Bomber B-52 AS Dikerahkan, Dampingi Jet Tempur Jepang Usai Manuver China–Rusia


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Lalu ketiga, penguatan talenta keamanan siber ASN, baik di pusat maupun di daerah, dan terakhir, pendampingan intensif melalui Ekosistem Keamanan Siber Nasional.Dengan empat langkah strategis ini, keamanan siber tidak lagi bersifat reaktif, tetapi menjadi sistem pertahanan yang proaktif, terstandarisasi, dan terintegrasi untuk melindungi ruang digital Indonesia, jelasnya.Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi mengatakan, sinergi, kolaborasi, kerja sama, persatuan, kerukunan, adalah rumus keberhasilan suatu bangsa dalam mewujudkan transformasi nasional.Menurutnya, BSSN dan Kementerian PANRB terus berupaya meningkatkan sinergi dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk dalam pelaksanaan program percepatan transformasi digital yang aman.Baca juga: Rapat bersama DPR, Menteri PANRB Sampaikan Progres dan Proyeksi Program Kerja Kementerian PANRBTentu saja percepatan transformasi itu untuk mendukung Asta Cita dan Program Prioritas Presiden menuju Indonesia Emas 2045.Kami sangat mengapreasiasi Kementerian PANRB yang telah memberikan arahan dan dukungan sehingga terbuka ruang kolaborasi yang kuat antar kedua institusi, kata Sulistyo.Kolaborasi itu, kata dia, diwujudkan dengan menempatkan keamanan siber dan sandi sebagai enabler dan trust builder, serta mengintegrasikan keamanan siber dan sandi dalam kebijakan serta peta jalan penyelenggaraan transformasi digital.Hal tersebut, dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kepada masyarakat.

| 2026-01-14 09:48