Permukiman Padat Penduduk di Grogol Petamburan Jakbar Kebakaran

2026-02-03 02:07:36
Permukiman Padat Penduduk di Grogol Petamburan Jakbar Kebakaran
Kebakaran melanda kawasan padat penduduk Jalan Karya Dalam III, Kelurahan Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Diperkirakan delapan rumah terbakar.Dikutip Antara, Senin (22/12/2025), kobaran api disertai asap hitam membubung tinggi dari lokasi kebakaran sehingga bisa dilihat dari kejauhan. Banyaknya material bangunan berbahan kayu serta padatnya lokasi permukiman membuat api dengan cepat merambat.Petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Barat yang tiba di lokasi sekitar pukul 19.30 WIB langsung berupaya melakukan pemadaman.Warga sekitar turut membantu petugas untuk api memadamkan api dengan peralatan seadanya. Seorang warga di lokasi bernama Ahmad (20) mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 19.00 WIB."Rumah saya agak jauh, tadi saya dapat info dari teman. Langsung habis itu saya ke sini. Kelihatannya tadi api datang dari warung kelontong, baru nyebar ke bangunan lain," kata Ahmad kepada wartawan.Kendati delapan bangunan ludes terbakar. Ahmad menyebut tidak ada korban jiwa akibat kebakaran itu."Enggak ada kalau korban jiwa," imbuh Ahmad.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 02:04