Potret Jalur Pedestrian Monas yang Berubah Jadi Ruang Dagang PKL Tanpa Izin

2026-01-11 03:40:13
Potret Jalur Pedestrian Monas yang Berubah Jadi Ruang Dagang PKL Tanpa Izin
JAKARTA,  – Area pintu masuk Monas, khususnya di sekitar pintu IRTI, kembali dipadati pedagang asongan dan pedagang kaki lima (PKL) liar.Jalur pedestrian yang seharusnya menjadi ruang pergerakan pengunjung berubah menjadi lokasi berdagang, meski papan larangan terpampang jelas di sepanjang pagar kawasan.Kondisi semrawut ini berlangsung bertahun-tahun dan menjadi persoalan klasik antara kebutuhan ekonomi pedagang dan upaya penataan kawasan wisata nasional.Kerumunan kerap terbentuk di titik tertentu, terutama saat pengunjung berhenti membeli minuman atau mainan.Para pedagang—dari yang muda hingga lanjut usia—berjualan dengan waspada, sesekali menoleh ke arah jalan mengantisipasi kedatangan Satpol PP.Baca juga: Dianggap Biang Kerok Kemacetan, 110 PKL di Dekat Stasiun Depok Lama DitertibkanPengelola dan Satpol PP menegaskan, kawasan tersebut adalah area steril dari aktivitas berdagang. Meski dilarang, kawasan pintu IRTI tetap menjadi lokasi favorit pedagang kecil karena arus pengunjung yang tinggi.Tati (47), pedagang minuman yang sudah 10 tahun berjualan di sana, menyebut lokasi dekat pintu sebagai titik paling strategis.“Kalau jauh sedikit saja, pembeli sudah enggak kelihatan. Saya enggak punya modal untuk sewa kios resmi. Dagangan saya cuma bisa laku kalau saya duduk di dekat pintu,” ujar dia kepada Kompas.com, Kamis .Hal serupa disampaikan Rudi (41), pedagang camilan dan mainan. Ia mengaku pernah memiliki lapak di area IRTI, namun kesempatan berdagang menyempit sejak renovasi Monas beberapa tahun lalu.“Katanya nanti ada penataan UMKM, tapi sampai sekarang enggak jelas. Jadi, ya kami duduk di trotoar begini,” kata dia.Bagi Nana (32), penjual permen kapas, bertahan dekat pintu masuk adalah soal keberlangsungan usaha.Baca juga: Satpol PP Razia PKL yang Pakai Pengeras Suara di Sekitar Danau Sunter“Kalau saya beneran pergi dari pintu ini, rezeki hilang. Saya sudah coba agak jauh, tapi enggak ada yang beli,” ujarnya.Mereka juga sadar kehadiran mereka dianggap mengganggu jalur masuk, tetapi kebutuhan ekonomi membuat mereka tak punya pilihan lain.Pedagang lain seperti Kamal (58) yang mendorong gerobak es krim mengaku tidak mampu berkeliling karena faktor usia dan kondisi fisik.“Kalau pemerintah bikin tempat yang sedikit teduh dekat pintu, kami bisa tertib kok. Kami cuma bertahan hidup,” ujarnya.


(prf/ega)