IHSG Diperkirakan Capai 8.500, 2026 Disebut Masih dalam Fase Bullish

2026-01-14 02:28:29
IHSG Diperkirakan Capai 8.500, 2026 Disebut Masih dalam Fase Bullish
JAKARTA, – PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai level 8.500 hingga akhir 2025.Presiden Direktur KISI, Kyoung Hun Nam, mengatakan pergerakan IHSG jangka pendek masih sulit diprediksi. Namun kondisi pasar hingga akhir tahun dinilai stabil dan berpotensi meningkat.“Saya percaya bahwa sampai akhir tahun ini kondisi pasar akan sama dengan situasi sekarang, mencapai sekitar di level 8.500 untuk target akhir tahun ini,” ujarnya dalam peluncuran aplikasi iKISI di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis .Baca juga: IHSG Melemah 0,20 Persen, Sektor Energi dan Infrastruktur Jadi Penahan TekananChief Financial Officer KISI, Zayyidah Ahsanti, menambahkan prospek pasar saham 2026 masih positif.Fundamental ekonomi domestik yang kuat dan likuiditas tinggi di sektor keuangan menjadi faktor utama.“Kami optimistis bahwa pada tahun 2026, pasar saham Indonesia akan melanjutkan fase tren bullish dengan dukungan kuat dari fundamental ekonomi domestik, tren suku bunga rendah, serta pemulihan kondisi masyarakat,” kata Zayyidah.Menurutnya, stabilitas ekonomi menjadi fondasi bagi penguatan pasar modal Indonesia pada 2026.Ia juga menilai meningkatnya minat investor asing terhadap aset di negara berkembang akan memperkuat bursa dalam negeri.“Kami masih optimistis terhadap kondisi ekonomi pada 2026. Kami juga melihat likuiditas yang cukup melimpah di sektor keuangan, kemudian adanya kecenderungan perbaikan hubungan global, serta peningkatan minat investor asing terhadap aset di pasar negara berkembang,” jelasnya.Baca juga: KISI Luncurkan Fitur IPO, Tingkatkan Pastisipasi Masyarakat di Berinvestasi Hasil riset internal KISI menunjukkan empat sektor yang akan menjadi pendorong utama kinerja pasar saham tahun depan.Sektor perbankan, konsumsi, infrastruktur, dan teknologi diprediksi akan menjadi kontributor terbesar.Zayyidah mengingatkan sejumlah risiko masih perlu diwaspadai. Termasuk risiko geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta potensi perlambatan ekonomi global.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-14 01:51