Pramono Tegaskan Pakan Harimau di Ragunan Tak Dibawa Pulang Petugas

2026-01-14 09:07:52
Pramono Tegaskan Pakan Harimau di Ragunan Tak Dibawa Pulang Petugas
JAKARTA, – Gubernur Jakarta Pramono Anung membantah kabar yang beredar bahwa jatah pakan harimau di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) dibawa pulang oleh petugas, sehingga salah satu harimau terlihat kurus.“Enggak ada, saya sudah cek. Sudah,” ucap Pramono saat ditemui di Gedung Kemendikbud, Jakarta Pusat, Minggu .Pramono menambahkan dengan candaan, siapa pun yang berani mengambil jatah makan harimau akan menghadapi satwa tersebut.Baca juga: Pakan Harimau di Ragunan Diduga Dibawa Pulang Petugas, Pramono: Saya Cek“Kalau berani ngambil makanan anak harimau saya, harimaunya tak keluarin nanti,” katanya.Isu ini muncul setelah sebuah video menampilkan seekor harimau mondar-mandir dan tampak kurus di kandangnya.Narasi dalam video menyebut bahwa kondisi harimau akibat petugas Ragunan membawa pulang pakan.“Warga Jakarta dan para petinggi Jakarta tau enggak dengan kasus harimau yang di Ragunan, makanan mereka dibawa pulang ke rumah. Dan harimau yang di kandang dibiarkan kelaparan,” demikian narasi dalam unggahan itu.Humas TMR, Wahyudi Bambang, menegaskan tuduhan tersebut tidak benar.Semua proses penyediaan dan pemberian pakan satwa dikelola secara ketat sesuai standar.“Perlu kami sampaikan bahwa informasi yang beredar tidak benar dan tidak sesuai kondisi faktual di Taman Margasatwa Ragunan (TMR)," ujar Wahyudi, Sabtu .Baca juga: Beredar Kabar Makanan Harimau di Ragunan Dibawa Pulang Petugas, TMR BantahIa menambahkan, pakan satwa disiapkan melalui prosedur baku, menyesuaikan kebutuhan masing-masing spesies.“Satu ekor harimau di Ragunan mendapat jatah lima kilogram daging per hari, sesuai standar, tanpa ada pengurangan,” ucap Wahyudi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 07:29