Pemahaman dan Hafalan Bukan Untuk Diunggulkan Salah Satu

2026-02-03 04:15:55
Pemahaman dan Hafalan Bukan Untuk Diunggulkan Salah Satu
DUNIA pendidikan sering kali terjebak dalam perdebatan klasik mengenai mana yang lebih krusial yaitu menghafal informasi atau memahami konsep di baliknya. Banyak orang menganggap hafalan sebagai metode kuno yang menjemukan. Sementara pemahaman konsep dipuja sebagai kasta tertinggi dalam intelektualitas. Namun, memisahkan keduanya secara dikotomis justru dapat menghambat potensi belajar seseorang.Sejatinya, pendidikan yang efektif bukanlah tentang memilih salah satu melainkan bagaimana menyatukan keduanya untuk membangun fondasi ilmu yang kokoh. Hafalan sering kali disalahartikan hanya sebagai proses mekanis yaitu memasukkan data ke dalam otak tanpa makna.Padahal dalam disiplin ilmu tertentu, hafalan adalah pintu gerbang awal. Tanpa menghafal alfabet, kita tidak bisa membaca. Tanpa menghafal tabel perkalian atau simbol kimia, proses kognitif yang lebih kompleks akan berjalan sangat lambat. Hafalan berfungsi sebagai penyimpan data jangka pendek yang menyediakan bahan baku bagi otak untuk diolah lebih lanjut menjadi sebuah pemikiran yang sistematis.Di sisi lain, pemahaman konsep adalah kemampuan untuk melihat gambaran besar dan hubungan antar informasi. Memahami konsep berarti Anda mengerti "mengapa" dan "bagaimana" sesuatu bekerja, bukan sekadar "apa" itu. Misalnya ketika seseorang memahami prinsip dasar fisika, ia tidak perlu panik jika lupa satu rumus spesifik karena ia mampu menurunkan logika berpikir untuk menemukan solusi.Pemahaman memberikan fleksibilitas mental yang memungkinkan seseorang menerapkan ilmu dalam situasi baru yang belum pernah dipelajari sebelumnya.Namun, mengandalkan pemahaman saja tanpa dukungan memori yang kuat juga bisa menjadi bumerang. Bayangkan jika seorang dokter yang memahami konsep anatomi tetapi lupa nama saraf atau dosis obat yang kritis. Hal itu menggambarkan bahwa pemahaman saja tidak cukup dalam situasi yang membutuhkan presisi tinggi.Begitu pula sebaliknya, menghafal tanpa paham akan membuat ilmu tersebut menguap begitu saja setelah ujian selesai. Oleh karena itu, hubungan keduanya bersifat simbiotis dimana hafalan memberikan struktur dan sementara pemahaman memberikan nyawa pada struktur tersebut.Baca juga: Cara Membentuk Anak Cerdas Bukan dengan Hafalan, Ada 6 Level BerpikirWaktu yang paling tepat untuk mengutamakan hafalan adalah di fase awal pengenalan sebuah subjek baru atau saat berhadapan dengan data-data yang bersifat aksiomatis (ketentuan tetap). Sebaliknya, fase pendalaman harus didominasi oleh eksplorasi konsep untuk memastikan informasi tersebut tertanam di memori jangka panjang.Waktu belajar yang efektif biasanya mengikuti ritme sirkadian tubuh. Pagi hari saat otak segar sangat baik untuk memahami konsep berat, sedangkan pengulangan hafalan (spaced repetition) bisa dilakukan di waktu-waktu santai untuk memperkuat retensi.Kombinasi terbaik antara keduanya adalah metode "Belajar Bermakna". Dalam metode ini, Anda mulai dengan memahami logika dasar suatu materi, lalu menghafal poin-poin kunci atau kata kunci (keywords) sebagai jangkar pengingat. Dengan cara ini, hafalan tidak lagi terasa berat karena ia terhubung dengan jaringan logika di otak. Integrasi ini akan menciptakan efisiensi belajar yang luar biasa, di mana anda mampu mengingat detail dengan cepat sekaligus mampu menjelaskan esensinya dengan mendalam secara bersamaan.Sebagai kesimpulan, anggapan bahwa hafalan tidak penting dibandingkan pemahaman konsep adalah sebuah kekeliruan. Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama dalam proses kognitif manusia. Hafalan menyediakan efisiensi dan kecepatan akses informasi, sementara pemahaman memberikan kedalaman dan aplikasi nyata.Dengan mengharmonisasikan keduanya, kita tidak hanya sekadar menjadi "perpustakaan berjalan", tetapi juga menjadi pemikir kritis yang mampu mengelola ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan zaman.Baca juga: Kurangi Hafalan, Kembangkan Pola Pikir....


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-03 04:10