Rekayasa Penggunaan Tekhnologi IoT di Sragen, Mampu Kurangi Penggunaan Pupuk dan Tingkatkan Kualitas Pertanian

2026-01-12 16:00:57
Rekayasa Penggunaan Tekhnologi IoT di Sragen, Mampu Kurangi Penggunaan Pupuk dan Tingkatkan Kualitas Pertanian
SRAGEN, - Teknologi Internet of Things (IoT) mampu menekan penggunaan pupuk dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.Hal tersebut dibuktikan dari hasil uji coba rekayasa penggunaan IoT untuk tanah pertanian melon dan padi di Sragen, Jawa Tengah (Jateng) yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) dalam rangka menyosialisasikan Smart Precision Agriculture (Pertanian Presisi Cerdas) di Indonesia.Rekayasa penggunaan IoT melibatkan 16 kelompok tani jagung/padi di Kecamatan Sidoharjo dan 16 kelompok tani melon di Kecamatan Tanon, dengan total petani mencapai 190 orang.Baca juga: Selain 2 Pentolan AMPB, Sopir Truk Jadi Tersangka Pemblokiran Jalan Saat Demo Pemakzulan Bupati PatiPenerapan IoT yang menekankan pada penggunaan Jinawi atau sistem cerdas mengukur kadar unsur hara tanah (N, P, K), pH, suhu, dan kelembaban secara real-time itu telah dimulai sejak bulan Mei 2025."Komdigi sejak bulan Mei lalu sudah melakukan percobaan dengan lahan yang ada di Kabupaten Sragen," ujar Menteri Komdigi Meutya Hafid saat mengikuti kegiatan Panen Digital di Sidoharjo, Sragen, Rabu .Menurutnya, penggunaan IoT untuk industri pertanian skala besar sejauh ini atau hingga Oktober 2025 mencatatkan hasil yang memuaskan.Untuk melon, teknologi IoT mampu meningkatkan hasil panen hingga 26 persen dan meningkatkan pendapatan hingga 44 persen.Teknologi itu juga mampu menghemat penggunaan tenaga kerja hingga 45 persen dan menghemat air hingga 15 persen.Tingkat kemanisan buah juga meningkat dari 14 menjadi 15 Brix.Sedangkan untuk pertanian padi, penggunaan pupuk berkurang lebih dari 50 persen, serta mengurangi pencemaran tanah dan air akibat residu pupuk."Jadi ini selain lebih produktif, untuk lingkungan juga lebih baik dan yang paling utama adalah pengurangan dari sisi kebutuhan pupuk, pupuk yang tentu mengakibatkan penghematan bagi para petani-petani kita di lapangan," jelasnya.Uji coba penggunaan IoT nantinya akan berlangsung hingga 8 bulan atau hingga Desember 2025.Meutya menegaskan bahwa kelanjutan program ini nantinya akan menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian (Kementan). "Atas arahan Bapak Presiden, di mana para petani baik padi maupun melon juga dibantu dengan alat-alat yang berbasis Internet of Things dan nantinya mudah-mudahan bisa diteruskan oleh kementerian teknis terkait. Jadi kami kerja sama, ada MOU antara Kementerian Kominfo dengan Kementerian Pertanian," terangnya.Bupati Sragen Sigit Pamungkas menuturkan, pihaknya mendukung program penggunaan IoT dalam bidang pertanian. "Atas uji coba untuk peningkatan produksi pertanian ini, tentu kami akan mendukung dan melanjutkan. Data-data yang disampaikan para petani tadi sangat bagus untuk meningkatkan kesejahteraan petani," bebernya.Salah seorang petani padi di Sidoharjo, Tri Widodo, mengatakan, setelah menggunakan Jinawi, penggunaan pupuk irit 30 persen.Dari yang sebelumnya 1 ton 50 kilogram menjadi 650 kilogram per hektar. "Sejauh ini tidak ada kendala, tanahnya bagus, padinya subur. Batangnya kuat anti roboh," tutupnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler