Rosan: Proyek Sampah Jadi Listrik Diminati 240 Investor Dalam dan Luar Negeri

2026-01-17 02:53:00
Rosan: Proyek Sampah Jadi Listrik Diminati 240 Investor Dalam dan Luar Negeri
JAKARTA, - Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa proyek sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy) diminati oleh 240 investor.Minat ini terlihat setelah pemerintah melakukan proses pendaftaran dan penjaringan investor.Hal ini disampaikannya usai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis ."Program Waste to Energy itu juga tadi Bapak Presiden minta di-update. Saya laporkan bahwa kita sudah proses untuk melakukan penjaringan, pendaftaran sudah, dan penjaringan dari potensial investor," kata Rosan usai rapat terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan, Kamis.Baca juga: Prabowo Perintahkan Airlangga, Purbaya, hingga Rosan Cari Skema Terbaik Terkait Utang Whoosh"Memang ada lebih dari 200, 240 kalau enggak salah, yang berminat dari luar negeri," imbuh Rosan.Rosan menyebut, penjaringan dan pendaftaran dilakukan dalam beberapa kloter (batch), sembari menunggu penilaian.Sebab, pria yang menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ini perlu melihat kesiapan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.Setelah disetujui, proyek tersebut akan masuk tahap penawaran resmi."Sesudah dilihat secara penuh oleh Kementerian LH (Lingkungan Hidup) dan juga oleh Menko Pangan. Jadi kemudian baru diberikan kepada kami untuk melakukan proses bidding-nya, tendernya," beber Rosan.Baca juga: Prabowo Minta 18 Proyek Hilirisasi Rp 600 Triliun Rampung Akhir 2025Sejauh ini, kata Rosan, sudah ada tujuh daerah yang disetujui untuk pengembangan program Waste to Energy oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.Ketujuh daerah itu sudah memenuhi ketersediaan lahan, jumlah sampah yang mencukupi, hingga infrastruktur dasar seperti jalan dan air."Jadi itu bisa kita proses lebih lanjut lagi untuk yang 7 daerah itu. Kita minggu depan akan buka untuk proses bidding-nya, penawarannya, ya. Itu mulai proses kita memberikan data dan penawaran yang kita mulai minggu depan," jelas Rosan.Sebagai informasi, proyek Waste to Energy siap dibangun di 10 titik, termasuk di Bantar Gebang, Bekasi.Kesepuluh titik tersebut merupakan tahap awal dari total pembangunan di 34 kabupaten/kota.Adapun 34 kabupaten/kota itu dipilih lantaran sampah yang dihasilkan sudah mencapai 1.000 ton per hari.Sepuluh kota prioritas pertama yang dibangun instalasi proyek tersebut adalah Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Denpasar, Kabupaten Badung, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Medan, Kabupaten Deli Serdang, serta Kota dan Kabupaten Semarang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 02:10