JAKARTA, - Kebijakan pengaturan penyeberangan Merak-Bakauheni kembali menuai sorotan.Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) menilai kebijakan yang diterapkan saat ini belum cukup fleksibel dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan, sehingga menekan kelancaran distribusi logistik.Ketua Umum GAPASDAP, Khoiri Soetomo, menilai kebijakan pengaturan penyeberangan Merak-Bakauheni belum cukup fleksibel.Baca juga: Distribusi Pangan Segar Saat Nataru, KAI Logistik Andalkan KA Kontainer ReeferKOMPAS.COM/RASYID RIDHO Kepadatan kendaraan di dermaga 6 Pelabuhan Merak, Banten pada saat puncak arus balik Minggu .Bahkan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan, sehingga menimbulkan dampak serius bagi pengguna jasa, khususnya kendaraan logistik nasional.“Berdasarkan data dan fakta operasional di lapangan, yang terjadi saat ini bukan penyelesaian kemacetan, melainkan pemindahan kemacetan ke lokasi lain yang infrastrukturnya belum siap,” ujar Khoiri lewat keterangan pers, Minggu .Menurutnya, logistik merupakan urat nadi perekonomian nasional yang seharusnya mendapat perlakuan khusus, bukan dikorbankan demi menciptakan kesan lancarnya arus penyeberangan di satu titik tertentu.“Mengorbankan kendaraan logistik agar Pelabuhan Merak–Bakauheni terlihat lancar dan tanpa antrean bukanlah solusi. Itu adalah kelancaran semu yang justru menutup masalah sebenarnya,” paparnya.Baca juga: Antisipasi Lonjakan Arus Logistik Akhir Tahun, IPC TPK Buka Layanan TambahanGAPASDAP menilai persoalan klasik penyeberangan Merak-Bakauheni terus berulang setiap musim puncak dan belum ditangani secara struktural, meskipun masukan dari pelaku usaha telah disampaikan melalui jalur resmi kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub).Di lapangan, antrean panjang, waktu tunggu yang tidak pasti, serta perubahan kebijakan secara mendadak disebut telah menimbulkan tekanan fisik dan psikologis bagi para pengemudi.ANTARA/Riadi Gunawan Suasana kepadatan kendaraan di area pintu masuk Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kondisi tersebut bahkan mulai menyentuh aspek kemanusiaan, terutama bagi pengemudi logistik yang harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian.Khoiri juga mengkritisi kebijakan pengalihan kendaraan ke Pelabuhan BBJ dan Ciwandan yang dinilai belum mampu menggantikan fungsi pelabuhan utama.Baca juga: Volume Petikemas yang Ditangani Naik 13,32 Persen, IPC TPK: Indikator Arus Logistik di Pelabuhan Semakin Efisien“Pelabuhan utama penyeberangan Jawa-Sumatra adalah Merak-Bakauheni. Bukan BBJ dan bukan Ciwandan,” katnya.Pelabuhan Merak dan Bakauheni merupakan simpul strategis nasional yang terhubung langsung dengan Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatera.Dalam sistem transportasi nasional, jalur ini semestinya tetap menjadi tulang punggung utama arus logistik, terutama pada masa puncak pergerakan.Ia memandang pelabuhan alternatif seharusnya berfungsi sebagai pendukung, bukan dipaksakan menjadi pengganti utama tanpa kesiapan kapasitas dermaga, kapal, dan manajemen operasional yang memadai.Baca juga: Surabaya Perkuat Peran sebagai Hub Logistik Indonesia Timur, DHL Bangun Fasilitas Gateway Baru
(prf/ega)
Arus Logistik Tertekan, Pengusaha Kritik Aturan Penyeberangan Merak-Bakauheni
2026-01-12 11:08:20
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 11:47
| 2026-01-12 11:31
| 2026-01-12 10:56
| 2026-01-12 10:33
| 2026-01-12 10:32










































