MAKASSAR, – Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) menyelenggarakan Kongres Ilmuwan Muda Indonesia (KIMI) IV di Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin .Dalam forum tersebut, ALMI mengungkap fenomena brain drain yang semakin mengkhawatirkan karena banyak ilmuwan muda asal Indonesia enggan kembali ke Tanah Air setelah menempuh pendidikan atau bekerja di luar negeri.Ketua ALMI, Lilis Mulyani, menegaskan pentingnya membangun kepemimpinan sains yang inklusif serta peran ilmuwan muda dalam mendorong kemajuan bangsa.Ia menyebut Indonesia memiliki sumber daya manusia muda berpendidikan tinggi, termasuk penerima beasiswa luar negeri, yang sebenarnya berpotensi besar mendukung pembangunan nasional.Baca juga: Ilmuwan Prediksi Kepunahan Manusia dan Mamalia, Bagaimana dan Kapan Terjadi?Namun, Lilis mengakui adanya tantangan besar karena tidak sedikit ilmuwan muda potensial memilih menetap di luar negeri.“Kita juga sangat khawatir dengan adanya realitas brain drain. Jadi banyak ilmuwan-ilmuwan muda yang sangat potensial tapi tidak mau kembali ke Indonesia,” kata Lilis.Karena itu, ALMI menekankan pentingnya komitmen para ilmuwan muda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri untuk kembali dan berkontribusi mencari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, baik melalui lembaga riset, universitas, maupun pemerintahan.“Ilmuwan muda di ALMI, kami ingin kembali ke negara kita, ingin memberikan sesuatu yang lebih berdampak kepada masyarakat dan kepada bangsa,” ucapnya.KIMI IV juga terintegrasi dengan Indonesia-Australia Young Scientist Forum (IAYSF) 2025, yang menjadi ajang diplomasi sains dan pengembangan talenta riset antara Indonesia dan Australia.Forum ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta KONEKSI, kemitraan pengetahuan dan inovasi Indonesia–Australia.IAYSF menjadi platform kolaborasi riset untuk isu-isu prioritas seperti lingkungan dan perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan, dan teknologi.“Forum ini memungkinkan peneliti awal dan madya karier dari Indonesia dan Australia untuk terhubung, bertukar ide, dan menjalin kolaborasi yang akan membentuk masa depan kerja sama ilmiah di seluruh Asia Tenggara dan Oseania,” kata Konsul Jenderal Australia, Todd Dias.Selain itu, ALMI juga memberikan ruang bagi ilmuwan perempuan, peneliti muda, dan talenta daerah melalui forum Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) untuk tampil dan memimpin komunitas ilmiah nasional.ALMI berharap hasil riset yang dihasilkan dapat memberikan dampak nyata dan menjadi solusi bagi masyarakat.
(prf/ega)
Fenomena Brain Drain Meningkat, ALMI: Banyak Ilmuwan Muda Enggan Pulang ke Indonesia
2026-01-12 15:07:04
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 14:34
| 2026-01-12 14:31
| 2026-01-12 14:07
| 2026-01-12 13:59










































