Ternyata Literasi Keuangan Perempuan Masih Rendah, Rentan Terjerat Pinjol Ilegal

2026-01-11 22:59:52
Ternyata Literasi Keuangan Perempuan Masih Rendah, Rentan Terjerat Pinjol Ilegal
JAKARTA, - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti rendahnya literasi keuangan perempuan masih menjadi celah besar yang dimanfaatkan pelaku pinjaman online ilegal (Pinjol).Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Cecep Setiawan menilai di tengah peran strategis perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga, justru minimnya pemahaman finansial justru membuat para perempuan lebih rentan terjebak pada keputusan keuangan berisiko."Perempuan ini memiliki tingkat literasi yang lebih rendah dibanding laki-laki. Padahal laki dan perempuan itu sama-sama wajib memiliki pengalaman keuangan yang adil.," jelasnya dalam literasi keuangan dan memperingati Hari Ibu OJK dan Kemenko PMK di Jakarta pada Senin .Baca juga: OJK Rampungkan Konsolidasi 130 BPR, Ratusan Bank Mikro Masih DiprosesBerdasarkan hasil survei OJK, sebanyak 99 persen pengelolaan keuangan keluarga berada di tangan perempuan, terutama untuk keputusan keuangan jangka pendek.Menurut Cecep, seharusnya perempuan memegang peran dominan dalam pengambilan keputusan keuangan harian keluarga, mulai dari belanja, menabung, hingga mencari pembiayaan saat kebutuhan mendesak.Kondisi ini kata cecep menjadi kombinasi yang berisiko. Perempuan dituntut memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, sementara akses dan pemahaman terhadap produk keuangan yang aman masih terbatas.Dalam situasi keuangan yang sempit, tawaran pinjaman cepat tanpa syarat kerap terlihat sebagai solusi instan."Sehingga istri harus berputar kepala untuk mencari uang. Akhirnya murilah tertipu dengan tawaran-tawarannya ilegal. Yang kedua juga ada istri itu gampang senang berkumpul ya," lanjutnyaBaca juga: OJK Periksa Ketahanan Siber Seluruh BPD Usai Kasus Peretasan BI FastTekanan ekonomi juga memperbesar kerentanan tersebut. Ketika penghasilan keluarga tidak mencukupi, perempuan sering kali berada di garis depan untuk “memutar otak” mencari tambahan dana.Selain faktor literasi kata Cecep, masifnya arus informasi di ruang digital turut memperparah kondisi. Media sosial kerap menampilkan gaya hidup serba instan dan kesan kemudahan finansial, yang mendorong perilaku konsumtif tanpa perencanaan matang.OJK melihat banyak keputusan keuangan diambil bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan dorongan lingkungan dan tren.Penguatan literasi keuangan perempuan dianggap menjadi kunci memutus rantai pinjol ilegal. Perempuan bukan hanya pengelola keuangan rumah tangga, tetapi juga pendidik utama kebiasaan finansial anak-anak.Pola konsumsi, kebiasaan menabung, hingga sikap terhadap utang umumnya diturunkan dari ibu ke anak.Karena itu, edukasi keuangan tidak semata bertujuan melindungi perempuan sebagai konsumen, tetapi juga membangun ketahanan ekonomi keluarga dalam jangka panjang.


(prf/ega)