HUBUNGAN hangat antara Presiden Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II kembali menjadi sorotan publik.Bukan semata karena keduanya tampak akrab dalam berbagai pertemuan, tetapi karena kedekatan personal itu kini menjelma menjadi fondasi bagi arsitektur ekonomi baru antara Indonesia dan Yordania.Apa sesungguhnya dampak ekonominya bagi Indonesia—dan bagaimana “jejak” hubungan dua pemimpin ini mulai terasa dalam perdagangan, investasi, hingga ketahanan pangan?Kedatangan Raja Abdullah II ke Jakarta pada November 2025, bukan sekadar kunjungan balasan. Di balik pertemuan resmi dan jamuan privat, terdapat kesepahaman yang semakin matang antara dua pemimpin yang memiliki latar belakang militer serupa.Chemistry pribadi ini menciptakan ruang negosiasi yang lebih cair—sesuatu yang sering kali menjadi pembeda antara kesepahaman yang ideal dan kesepakatan yang benar-benar dapat dieksekusi.Baca juga: Vietnam dan Jalan Keluar dari Perangkap MetrikKonteks inilah yang membuat hubungan Indonesia–Yordania menarik: diplomasi personal diterjemahkan langsung menjadi agenda ekonomi yang konkret.Salah satu simpul ekonomi terkuat berada di sektor pupuk dan bahan baku pertanian. Yordania adalah eksportir fosfat besar dunia, sementara Indonesia memiliki kebutuhan pupuk yang terus meningkat seiring program intensifikasi pertanian dan kenaikan konsumsi pangan domestik.Kerja sama fosfat yang ditegaskan kembali dalam pertemuan kedua pemimpin ini menjadi sangat strategis. Dengan pasokan yang stabil dan harga lebih terjangkau, Indonesia memperoleh keuntungan langsung dalam menjaga ketahanan pangan.Inilah esensi ekonomi politik modern: negara tidak hanya mengejar efisiensi pasar, tetapi juga security of supply—kepastian pasokan untuk komoditas vital.Hubungan personal Prabowo–Abdullah II memangkas jarak birokrasi, mempercepat negosiasi, dan pada akhirnya memperkuat pondasi ekonomi sektor pangan Indonesia.Jika dilihat secara nominal, investasi Yordania di Indonesia masih relatif kecil, berada di kisaran jutaan dolar AS. Namun, justru di ruang kosong itu tersimpan potensi paling besar.Dalam pertemuan terbaru, Raja Abdullah II menawarkan paket investasi strategis—mulai dari proyek pipanisasi gas bernilai sekitar 1 miliar dollar AS hingga proyek jalan tol ratusan juta dolar AS.Di pihak Indonesia, Danantara Indonesia—sovereign wealth fund era Prabowo—didorong untuk membuka pintu bagi investasi jangka panjang semacam ini.Jika terealisasi, hubungan ekonomi Indonesia–Yordania tidak hanya berhenti pada perdagangan komoditas, tetapi masuk ke tahap berikutnya: kolaborasi modal dan infrastruktur.Dari perspektif geoekonomi, ini adalah langkah penting. Indonesia memperluas jejaring mitra investasinya, sementara Yordania mendapatkan akses pada pasar besar dan stabil di Asia Tenggara.
(prf/ega)
Jejak Ekonomi Prabowo dan Raja Yordania
2026-01-12 02:32:31
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:00
| 2026-01-12 01:06
| 2026-01-12 00:40
| 2026-01-12 00:21










































