Sepanjang 2025, Densus 88 Antiteror Tangkap 51 Terduga Teroris

2026-01-11 22:53:22
Sepanjang 2025, Densus 88 Antiteror Tangkap 51 Terduga Teroris
Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap 51 tersangka terorisme sepanjang 2025. Jumlah tersebut menurun signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya.Data itu disampaikan Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono dalam rilis akhir tahun Polri di Mabes Polri, Jakarta, Selasa .“Densus 88 mengamankan 51 tersangka di tahun 2025,” ujarnya.AdvertisementMenurut dia, angka tersebut melanjutkan tren penurunan jumlah tersangka teror sejak 2023 yang mencatat 147 tersangka, kemudian 55 tersangka pada 2024. Ia menilai penegakan hukum yang konsisten berkontribusi menjaga stabilitas keamanan nasional."Densus 88 Antiteror Polri berkomitmen menjaga Indonesia bebas dari serangan teror sepanjang tahun 2025 dan berhasil mempertahankan status zero terrorist attacks sejak 2023 hingga 2025 melalui langkah penegakan hukum yang proaktif," ucapnya.Selain penindakan hukum, Densus 88 juga mencatat sejumlah pengungkapan kasus menonjol pada 2025, salah satunya jaringan radikalisme yang menyasar anak di bawah umur melalui rekrutmen daring. Dalam kasus itu, lima tersangka teroris ditangkap dengan target rekrutmen 110 anak di 23 provinsi.“Keberhasilan menonjol Densus 88 selama 2025 di antaranya pengungkapan jaringan radikalisme pada anak di bawah umur dengan rekrutmen online, melibatkan lima tersangka dengan target 110 anak di 23 provinsi,” katanya. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-11 22:27