Di Tengah Keterisolasian Agam, Relawan Dompet Dhuafa Berhasil Mendirikan Dapur Umum

2026-01-14 03:16:51
Di Tengah Keterisolasian Agam, Relawan Dompet Dhuafa Berhasil Mendirikan Dapur Umum
 — Kata pilu seakan menemukan maknanya saat relawan Dompet Dhuafa pertama kali menginjakkan kaki di Sikabau. Sebuah wilayah di Jorong Kayu Pasak Selatan, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.Bukan karena letaknya yang jauh semata, tetapi karena luka alam yang baru saja menghantamnya. Galodo atau banjir bandang yang datang tanpa aba-aba, menghanyutkan satu-satunya jembatan penghubung ke kampung itu.Sejak saat itu, Sikabau terputus dari dunia luar. Jalan keluar hanya tersisa satu yakni berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Hujan dengan curah tinggi sebelumnya memicu longsor di dua titik dan membuat perjalanan menuju Sikabau menjadi medan yang kian menantang.“Iya kalau di sini kami terisolasi, kalau kami dek kami jauh dari luar, jadi karena banjir bandang kemarin tuh terputuslah, mau belanja ke pasar nggak bisa jadi payah kami untuk berusaha beraktivitas nggak ada lah dapat penghasilan apa-apa,” ujar Apriani Dewi, salah penyintas galodo, seperti dalam siaran persnya, Selasa .Di tengah keterisolasian itu, masyarakat bertahan dengan segala keterbatasan. Hampir satu pekan lamanya mereka menunggu, dengan dapur yang perlahan kehabisan bahan dan harapan yang diuji oleh waktu.“Seminggu sesudah banjir bandang tuh lah baru datang polisi tentara di situlah baru buat jembatan darurat supaya bisa kami keluar masuk,” sambungnya.Baca juga: Malioboro Riuh dalam Kebaikan, Ndarboy Genk–Dompet Dhuafa Galang Rp 30 Juta untuk Korban Bencana SumateraHingga akhirnya, langkah-langkah relawan datang, Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Kitabisa hadir membawa lebih dari sekadar bantuan.Melalui dapur umum, mereka menghidupkan kembali kehangatan yang sempat redup. Bungkus demi bungkus disajikan, menjadi penanda bahwa Sikabau tidak sendirian.Pada Selasa , Relawan Dompet Dhuafa tiba setelah berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilometer, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Mereka pun bergotong royong mendirikan dapur umum dengan segala keterbatasan yang ada."Hari ini kami dari Dompet Dhuafa berada di simpang tiga Sikabau, menyalurkan bantuan berupa logistik untuk kebutuhan dapur umum,” ujar Firdaus, salah satu Relawan Dompet Dhuafa.Dapur umum hasil kolaborasi Dompet Dhuafa dan Kitabisa tersebut didirikan di SDN 26 Kayu Pasak. Pada hari pertama dapur umum berdiri, relawan dan warga setempat bahu membahu memasak dan menyajikan makanan. Sebanyak 150 porsi makanan disajikan dengan menu sederhana berupa sayur dan ayam balado.Seporsi nasi hangat dan lauk sederhana itu bukan sekadar mengisi perut yang lapar, melainkan menjadi penguat hati. Kebersamaan, dan tawa yang hadir selama proses memasak menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi para penyintas dan relawan.DOK. Dompet Dhuafa Relawan dan warga setempat bahu membahu memasak dan menyajikan makanan di dapur umum yang didirikan Dompet Dhuafa bersama Kitabisa di SDN 26 Kayu Pasak, Kayu Pasak Selatan, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa .


(prf/ega)