Verrell Bramasta Bantah Pakai Rompi Anti Peluru Saat Tinjau Banjir Padang: Itu Tactical Vest!

2026-01-15 02:17:42
Verrell Bramasta Bantah Pakai Rompi Anti Peluru Saat Tinjau Banjir Padang: Itu Tactical Vest!
JAKARTA, - Anggota DPR Fraksi PAN sekaligus artis Verrell Bramasta membantah dirinya menggunakan rompi anti peluru saat meninjau lokasi banjir dan longsor di Padang, Sumatera Barat, Minggu lalu.Verrell mengatakan, narasi dirinya memakai rompi anti peluru di media sosial adalah disinformasi."Sangat tidak benar dan disinformasi. Jadi, distorsi informasi yang terjadi, dibilang anti peluru atau pelampung, salah besar," ujar Verrell kepada Kompas.com, Selasa .Verrell menyampaikan, rompi yang dia pakai adalah tactical vest, bukan rompi anti peluru.Menurutnya, tactical vest umum dipakai dalam kegiatan lapangan.Baca juga: Verrel Bramasta soal Pedagang Mainan Mengeluh Rugi: Dia Nembak Rp 10 JutaLagipula, kata dia, tactical vest itu diberikan oleh temannya dari TNI Angkatan Laut (AL)."Rompi tersebut bukan rompi anti peluru, melainkan tactical vest yang umum dipakai di kegiatan lapangan. Itu merupakan hadiah dari rekan AL kepada saya. Umum digunakan untuk peninjauan lapangan," jelasnya."Rompi taktis ini tidak dilengkapi pelat balistik, dan fungsinya memang untuk membawa perlengkapan kebutuhan. Saya pada saat itu membawa perlengkapan seperti air minum, uang kas untuk dibagi-bagi, dan sebagainya," sambung Verrell.Verrell membeberkan, keunggulan dari rompi yang dia pakai memiliki sistem kantong modular, yang memudahkan untuk membawa beberapa barang sekaligus tanpa menghambat gerak.Baca juga: Pendidikan Verrel Bramasta, Dilantik Jadi Duta Maritim oleh TNI ALSebab, menurut Verrell, saat dia turun di area bencana, kondisi sangat dinamis, sehingga perlu membawa perlengkapan secara praktis agar bisa cepat membantu warga dan tim di lapangan."Saya tujuannya untuk turun langsung dan memberikan bantuan komoditas, meninjau langsung dan berdialog dengan pemda agar bantuan dan kejelasan para korban banjir bisa segera diberikan. Untuk mendengar keluhan dari masyarakat setempat agar bisa saya sampaikan kepada rekan-rekan di DPR dan menyuarakan di forum yang bersangkutan," imbuh Verrell.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 01:25