Trump Setop Pemberian Suaka: Akan Berlangsung Sangat Lama

2026-02-02 12:40:45
Trump Setop Pemberian Suaka: Akan Berlangsung Sangat Lama
Keputusan Gedung Putih menghentikan sementara seluruh proses pemberian suaka kian mengeras setelah seorang warga Afganistan diduga menembak dua anggota Garda Nasional di dekat Gedung Putih, menewaskan satu di antaranya.Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Minggu (30/11) waktu setempat, menegaskan jeda itu akan berlangsung "sangat lama.""Kami tidak menginginkan orang-orang itu," ujar Trump. "Anda tahu alasannya? Karena banyak dari mereka bermasalah, dan seharusnya tidak berada di negara ini."Trump menambahkan, penghentian tersebut "tidak memiliki batas waktu."Penegasan itu datang tiga hari setelah insiden penembakan yang menewaskan seorang anggota Garda Nasional berusia 20 tahun dan membuat rekannya kritis.Pelaku, seorang laki-laki Afganistan berusia 29 tahun yang masuk ke Amerika Serikat pada September 2021, kini menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama.Menteri Keamanan Nasional, Kristi Noem, menyatakan di program Meet the Press bahwa penyelidik menduga pelaku justru mengalami radikalisasi setelah tinggal di Amerika."Kami percaya dia mengalami radikalisasi setelah berada di negara ini," kata Noem. Pemerintah kini menghimpun keterangan dari keluarga dan orang-orang terdekat sang tersangka.Di tengah kritik Trump yang menuding pemerintahan Joe Biden lalai melakukan penyaringan (vetting) terhadap warga Afganistan, muncul fakta lain: tersangka disebut-sebut baru mendapatkan suaka pada April 2025, ketika Trump telah kembali berkuasa.Sebelumnya, ia merupakan anggota unit "partner force" Afganistan yang didukung CIA dalam perang melawan Taliban.Menurut mantan pemilik rumah yang dia sewa, Kristina Widman, pelaku tinggal di Bellingham, negara bagian Washington - sekitar 120 kilometer dari Seattle - bersama istri dan lima anaknya.Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris Diadaptasi oleh Rizki Nugraha Editor: Yuniman FaridSimak juga Video: Trump Ancam Tutup Wilayah Udara Venezuela![Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 11:29