Kebutuhan Literasi Baru: Mengarahkan AI, Bukan Bersaing Dengannya

2026-02-03 06:11:22
Kebutuhan Literasi Baru: Mengarahkan AI, Bukan Bersaing Dengannya
- Di tengah hiruk pikuk ketakutan akan hilangnya pekerjaan pemula (entry-level) karena akal imitasi atau artificial intellegence (AI) ada narasi harapan baru muncul. AI tidak menggantikan manusia, melainkan hanya mengganti cara kerja.Pergeseran ini menuntut literasi digital baru yang tidak lagi berfokus pada penguasaan alat secara tunggal melainkan pada kemampuan untuk mengarahkan teknologi, dalam hal ini akal imitasi.Pandangan ini disampaikan Co-Founder dan CEO dari ChatBar AI, Ryan McClure dalam forum HIMFEST 2025 yang diselenggarakan Binus University , Kampus Alam Sutera, Tangerang, Banten.Di hadapan ratusan mahasiswa, profesional muda, dan akademisi, Ryan menegaskan, bagi lulusan baru memilih untuk belajar AI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk tetap relevan dalam karier.Dalam presentasinya berjudul "Dampak AI terhadap Pekerjaan Entry-Level: Perspektif dari Garis Depan", Ryan McClure menyajikan data yang menunjukkan perubahan sedang terjadi secara dramatis, bukan hanya sekadar prediksi masa depan:Dia juga mengungkapkan, pekerjaan apa yang terpengaruh adalah pekerjaan yang selama ini menjadi tugas staf junior/baru dan intern seperti mengumpulkan riset pasar, penyuntingan gambar dan desain dasar, perakitan konten video, dan penyempurnaan copy writing."Sebanyak 70-80 persen (pekerjaan itu)  telah diselesaikan AI dalam hitungan menit, bukan hari," ungkap Ryan.Baca juga: Meta Gandeng Lagi Penerbit Berita, demi Konten AI yang Lebih Relevan"AI tidak menggantikan manusia. AI menggantikan proses. Pemenangnya adalah mereka yang tahu cara mengarahkan AI, bukan bersaing dengannya," tegasnya.DOK. CHATBAR Co-Founder dan CEO dari ChatBar AI, Ryan McClure (tengah) dalam HIMFEST 2025 yang diselenggarakan Binus University , Kampus Alam Sutera, Tangerang, Banten.Saat ini, jalur karier tradisional dengan tugas berulang secara bertahap selama 5-10 tahun telah digantikan realitas baru bernama akal imitasi. Dalam realitas ini, AI menangani tugas-tugas pemula.Ryan menjelaskan, dunia kerja kini terbagi menjadi dua kubu dalam mengadopsi AI. Kubu pertama 40 persen perusahaan fokus pada "mengurangi" dengan mengotomatisasi tugas dan menghilangkan posisi.Sementara kubu lain, 60 persen perusahaan fokus pada "menguatkan" dengan memberdayakan pekerja untuk meningkatkan produktivitas."Masa depan karier seorang profesional muda," menurut Ryan, "sangat bergantung pada perusahaan mana yang mereka masuki dan bagaimana mereka memposisikan diri."Menghadapi tantangan ini, dia menjelaskan lulusan baru yang masuk dunia kerja perlu menyiapkan beberapa kunci penting ini cepat dalam beradaptasi, terus melakukan inovasi dan eksperimen, serta tidak berhenti untuk terus belajar."Pergeseran ini justru menguntungkan profesional muda karena mereka terbiasa dengan perubahan yang cepat. Adaptabilitas adalah keunggulan kompetitif utama mereka di era AI," tegasnya lagi.Pergeseran mendasar dalam kebutuhan pasar kerja ini harus menjadi perhatian utama dunia pendidikan tinggi. Jika tugas-tugas dasar yang dulu menjadi fondasi praktik kerja junior kini terotomatisasi, maka kurikulum harus juga bergeser dari mengajar "cara melakukan" menjadi "cara berpikir kritis."Pendidikan tinggi perlu memasukkan penguasaan alat AI, seperti yang dicontohkan oleh ChatBar AI, ke dalam kurikulum mereka, lebih dari sekadar chatbot seperti menciptakan konten B2B profesional dalam hitungan jam yang sebelumnya memakan 2-3 minggu.Baca juga: Awal Revolusi AI: Server Nvidia Tak Laku, Elon Musk Beli dan Ubah Sejarah"Tidak seorang pun yang memiliki 20 tahun pengalaman AI. Medan persaingan akan berlangsung fair, siapa pun yang belajar paling cepat, dia yang menang," ungkap Ryan."Pendidikan harus memberdayakan mahasiswa untuk berada di garis depan, di mana pemikiran segar mengalahkan pengetahuan usang saat ini," pungkasnya. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Hingga kini, tolok ukur tersebut baru mampu dicapai Ducati, yang mendominasi klasemen konstruktor dengan enam gelar juara beruntun.Honda tercatat sebagai pabrikan pertama yang naik level dalam sistem konsesi sejak skema A-B-C-D diberlakukan pada awal 2024.Honda berhasil melampaui ambang batas 35 persen poin, sehingga berhak bergabung dengan KTM dan Aprilia di kategori C.Baca juga: Cara Mengecas Motor Listrik yang Bikin Baterai AwetDengan perubahan itu, Yamaha kini menjadi satu-satunya pabrikan yang masih berada di kategori D.Dok. HRC Aleix Espargaro menjadi pebalap tes untuk Honda Racing Corporation (HRC)Kondisi tersebut membuat Yamaha tetap menikmati konsesi penuh, termasuk kebebasan pengembangan mesin serta tes privat bersama pebalap utama.“Ini soal di mana kami harus berada, kami harus ada di A. Jadi ini adalah langkah pertama yang logis yang harus kami lakukan,” kata Espargaro, dikutip dari Crash, Selasa .Kenaikan peringkat Honda tidak lepas dari performa solid pada akhir musim 2025.Pada seri penutup musim, Luca Marini finis di posisi ketujuh, hasil krusial yang dibutuhkan Honda untuk melampaui ambang batas poin konsesi.Baca juga: Persiapan Touring Libur Nataru: Ini Item yang Harus Dibawa BikerSelain Marini, performa positif juga ditunjukkan Joan Mir yang meraih beberapa podium, serta Johann Zarco yang berhasil memenangi satu balapan.AFP/LOIC VENANCE Pebalap LCR Honda, Johann Zarco, memacu motornya selama sesi latihan bebas di MotoGP Perancis 2025 di Sirkuit Le Mans pada 10 Mei 2025.Zarco pun menutup musim sebagai pebalap Honda terbaik di klasemen dunia, finis di posisi ke-12, unggul enam poin dari Marini.Espargaro turut menyoroti intensitas program pengujian yang dijalani Honda sepanjang musim. “Sungguh luar biasa seberapa banyak kami bekerja. Saya menjalani tes di Malaysia, lalu kembali ke Eropa, kemudian ke Aragon sebelum tampil wild card di Valencia. Ini menunjukkan besarnya komitmen Honda,” ujarnya.Terkait minimnya konsesi yang dimiliki Ducati, Espargaro membandingkannya dengan perkembangan motor Honda selama musim berjalan. “Dengan segunung material dan ratusan lap pengujian, perubahan motor dalam enam bulan terakhir sungguh luar biasa,” katanya. “Honda membawa banyak pembaruan untuk Joan dan Luca. Misalnya, kami memiliki tiga pembaruan mesin selama musim berjalan, dan mesin yang digunakan sekarang sangat cepat,” ucap Espargaro.Mulai seri pembuka MotoGP 2026, Honda akan bergabung dengan Ducati, KTM, dan Aprilia dalam aturan pembekuan mesin.Sementara itu, era baru MotoGP dengan mesin 850 cc dijadwalkan resmi dimulai pada 2027.

| 2026-02-03 04:28