Antisipasi Cuaca Ekstrem saat Nataru, Pemprov DKI Jakarta Periksa Pohon yang Rawan Tumbang

2026-01-14 14:53:53
Antisipasi Cuaca Ekstrem saat Nataru, Pemprov DKI Jakarta Periksa Pohon yang Rawan Tumbang
Jakarta - Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta melakukan langkah-langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang di sejumlah wilayah DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir.Kondisi ini diperkirakan akan terjadi hingga perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).Berdasarkan informasi dan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang diperkirakan masih akan berlangsung dari Bulan Desember 2025 – Januari 2026. Oleh karena itu, upaya mitigasi dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan pra-cuaca ekstrem, saat cuaca ekstrem, dan pasca-cuaca ekstrem.AdvertisementPada tahap pra-cuaca ekstrem, dilakukan pemeriksaan berkala terhadap pohon-pohon berisiko tinggi untuk tumbang, seperti pohon tua, miring, atau memiliki batang berongga."Selain itu, dilakukan pemangkasan penyeimbang tajuk, pembersihan cabang kering, serta pemeriksaan kesehatan pohon untuk mendeteksi potensi bahaya sejak dini. Kesiapan personel, peralatan, dan kendaraan operasional juga terus ditingkatkan," kata Kepala Distamhut DKI Jakarta, M Fajar Sauri dalam keterangan tertulis, Rabu .Dia menjelaskan, penanganan pohon berisiko tumbang dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan data lapangan, mulai dari pemangkasan hingga penebangan pada pohon yang dinilai membahayakan."Langkah ini merupakan bagian dari upaya adaptasi terhadap meningkatnya intensitas cuaca ekstrem di Jakarta," ucap Fajar. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 13:11