Penulis ‘Confessions of a Shopaholic’ Sophie Kinsella, Meninggal di Usia 55 Tahun

2026-01-15 06:56:55
Penulis ‘Confessions of a Shopaholic’ Sophie Kinsella, Meninggal di Usia 55 Tahun
- Penulis bestseller internasional Sophie Kinsella, yang dikenal luas lewat seri novel Confessions of a Shopaholic, meninggal dunia pada Rabu dalam usia 55 tahun.Kabar duka itu disampaikan langsung oleh keluarga melalui unggahan di akun Instagram resminya."Kami dengan sangat berduka cita mengumumkan kepergian Sophie tercinta kami (alias Maddy, alias Mummy) pagi ini. Ia meninggal dengan tenang, dengan hari-hari terakhir yang dipenuhi hal-hal yang paling ia cintai: keluarga, musik, kehangatan, Natal, dan kebahagiaan," tulisnya.Baca juga: Sinopsis Confessions of a Shopaholic, Pencarian Hidup Si Gila BelanjaA post shared by Sophie Kinsella (@sophiekinsellawriter)"Kami tak bisa membayangkan seperti apa hidup tanpa pancaran dan kecintaannya pada kehidupan. Meski sakit, yang ia jalani dengan keberanian yang tak terbayangkan, Sophie merasa dirinya sangat diberkati — memiliki keluarga dan teman-teman yang luar biasa, serta meraih kesuksesan luar biasa dalam karier kepenulisannya. Ia tidak pernah menganggap apa pun sebagai hal yang pasti dan selalu bersyukur atas segala cinta yang ia terima. Ia akan sangat dirindukan, hati kami hancur," lanjutnya.Di balik nama pena Sophie Kinsella, sang penulis memiliki nama asli Madeleine Wickham, seorang novelis asal Inggris yang sukses membangun basis pembaca global berkat kisah ringan, jenaka, dan dekat dengan kehidupan perempuan muda masa kini.Melansir nytimes.com, Wickham diketahui telah berjuang melawan glioblastoma, jenis kanker otak agresif, sejak didiagnosis pada 2022. Ia mengumumkan kondisi tersebut secara terbuka pada April 2024.Baca juga: Dan McGrath, Penulis The Simpsons Meninggal DuniaKiprah Wickham di dunia fiksi komersial semakin menguat setelah perilisan novel pertamanya dalam seri Shopaholic, “The Secret Dreamworld of a Shopaholic”—yang di Amerika Serikat diterbitkan dengan judul “Confessions of a Shopaholic”—pada tahun 2000.Novel itu memperkenalkan karakter ikonik Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis keuangan dengan kecenderungan belanja impulsif yang memicu berbagai situasi komedik.Tokoh ini kemudian menjadi salah satu karakter paling dikenang dalam genre chick lit modern.Gagasan untuk kisah Shopaholic pertama bermula pada 1999, ketika Wickham terkejut melihat tagihan kartu kredit yang datang ke rumahnya. Ia pernah menceritakan momen tersebut dalam wawancara bersama The Times Colonist pada 2007.“Pikiran pertama saya adalah, ‘Saya tidak ingat membeli ini atau itu, berarti saya telah menjadi korban penipuan,’” kenangnya.“Saat itu saya langsung melihat potensi dunia belanja sebagai cerita yang menarik untuk ditulis.”Baca juga: Penulis Anand Krishna Meninggal Dunia karena KelelahanUntuk proyek yang awalnya ia kira hanya akan menjadi karya sampingan, Wickham memilih menggunakan nama pena Sophie Kinsella, yang merupakan gabungan dari nama tengahnya dan nama gadis ibunya.Tak disangka, keputusan itu justru melambungkan popularitasnya sebagai salah satu penulis fiksi komersial paling berpengaruh di dunia.Karya-karya Sophie Kinsella kini dikenang oleh para pembacanya sebagai bacaan yang hangat, lucu, dan penuh pelarian ringan—warisan sastra yang terus hidup meski sang penulis telah berpulang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dalam hitungan tak sampai lima menit, Gemini langsung menyusun kolase dengan komposisi rapi, sentuhan artistik otomatis, dan kualitas gambar yang tetap tajam.Sepengalaman saya, hasil kolase buatan Gemini terlihat lebih “niat” dan profesional dibanding kolase manual. Transisi antar foto terasa halus, penempatan elemen visual seimbang, serta tone warna konsisten dan masih bisa diubah sesuai selera.Hal ini membuat pengguna yang tidak punya kemampuan desain sekalipun tetap bisa menghasilkan Instagram Story yang estetik dan layak dipamerkan.Berikut contoh hasil collage foto konser Raisa yang di-generate langsung dari Gemini 3 Flash Nano Banana:/ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Gemini AI bisa menyulap foto biasa jadi foto sinematik dengan background panggung konser Raisa./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Gemini AI bisa menyulap foto biasa jadi foto sinematik dengan background panggung konser Raisa.9to5google Tampilan Google Gemini 3 Flash. Google rilis Gemini 3 Flash.Menurut saya, hasil kolase yang dibuat Gemini terlihat lebih “niat” dan profesional dibanding kolase manual.Transisi antar foto terasa halus, penempatan elemen visual seimbang, dan tone warna konsisten dan bisa diubah sesuai selera. Ini membuat pengguna yang tidak punya skill desain sekalipun tetap bisa menghasilkan Instagram Story yang estetik.Hasil editan yang rapi ini berkat Gemini 3 Flash yang baru saja dirilis pada pertengahan Desember lalu. Model AI penerus Gemini 2.5 Flash ini disebut memiliki performa nyaris setara Gemini 3 Pro, tetapi dengan kecepatan lebih tinggi dan biaya penggunaan yang lebih murah.Model Gemini berlabel “Flash” dirancang untuk respons cepat. Jadi tak heran, saat men-generate hasil foto collage rekap konser Raisa, pengguna bisa mendapatkan hasilnya dalam hitungan beberapa menit saja. Hasilnya pun tetap rapi.

| 2026-01-15 17:37