Sebatang Kayu Selamatkan Keluarga di Talamau Sumbar dari Longsor

2026-02-03 22:19:00
Sebatang Kayu Selamatkan Keluarga di Talamau Sumbar dari Longsor
Yusmidar (50), korban selamat dari bencana longsor di Padang Laweh, Tinggam, Jorong Harapan, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, tak berhenti mengucap rasa syukur. Dia bersama empat anak dan ayahnya selamat dari hantaman longsor sekitar pukul 04.00 WIB pada Jumat (28/11/2025)."Allah Maha Besar. Meskipun rumah saya habis tak berbekas, keluarga saya bisa selamat," ucapnya, dilansir Antara, Rabu (3/12), di sebuah musala tempat mengungsi keluarga itu sementara.Raut kesedihan mendalam terpancar di wajah Yusmidar yang baru ditinggal suaminya lima bulan lalu. Yusmidar mengatakan waktu menunjukkan pukul 03.00 saat hujan deras tak kunjung berhenti.Tiba-tiba anak perempuan yang paling kecil Asyifa Nur Rahmadhani (8) gelisah dan tidak mau tidur. "Ada apa, Nak?," tanyanya."Kenapa Abak (ayah yang telah meninggal dunia) memanggil Mak (ibu)?" kata bocah yang biasa dipanggil Syifa itu."Perasaan Syifa saja, mana mungkin Abak memanggil," jawab Yusmidar.Setelah itu, dia mengajak anaknya rebahan untuk tidur. Namun tiba-tiba anaknya berteriak keras minta tolong.Tak lama berselang, terdengar suara gemuruh dan bunyi hantaman yang begitu keras. Tanpa dia sadari, rumahnya mulai gelap dan dipenuhi lumpur bercampur air setinggi leher.Di dalam kepanikannya, Yusmidar bisa menggapai kayu yang ada di dekatnya dan berpegangan sambil memanggil anak-anaknya."Beruntung saya bisa memegang kayu yang tersangkut dan bisa jadi tempat berpegangan. Saat itu yang teringat hanya anak-anak saya," katanya.Dengan tenaga seadanya, dia memanggil anak-anaknya, tapi tidak ada yang menjawab. "Yang terdengar hanya suara lumpur yang mengalir deras menghantam rumah," katanya.Sambil berpegangan di sebatang kayu itu, dia menggapai apa yang dapat dipegang dan berjalan secara perlahan meskipun berat di dalam lumpur."Waktu itu saya sudah pasrah dan mengira anak-anak dan ayah saya sudah hanyut," ujarnya lirih.Namun, tak lama kemudian, dia mendengar suara memanggilnya. "Mak, ini Azis."Setelah menyelamatkan anaknya yang berumur 15 tahun itu, lalu dia kembali mencari anaknya yang lain sambil memanggil-manggil nama dengan penuh harapan."Alhamdulillah suara saya dijawab oleh anak saya yang paling kecil Asyifa dengan suara yang sayup-sayup minta tolong," ujarnya.Tak lama kemudian, datang warga sekitar memberikan bantuan untuk mencari dua orang anaknya lagi, Akbar (17) dan Anton (22). Berkat keyakinan, akhirnya keempat anaknya bisa diselamatkan."Awalnya saya sudah pasrah, namun Allah masih sayang pada kami dan berhasil diselamatkan," katanya.Terakhir, dia bersama warga lainnya bersama-sama mencari keberadaan ayahnya, Amirudin (75), yang dalam keadaan sakit stroke.Ayahnya ditemukan tertutup lumpur dan bersama-sama warga lainnya berhasil menarik dan menyelamatkannya. Yusmidar mengaku tak menyangka dengan kejadian itu mengingat rumah berada di posisi lebih tinggi dari warga yang lain."Saya memiliki enam orang anak. Dua orang anak saya tinggal di rumah eteknya (tante), sedangkan empat lagi tinggal bersama saya. Alhamdulillah bisa selamat," ucapnya.Tiga Orang Masih TertimbunBencana longsor di Tinggam, Sinuruik, menyebabkan lima orang tertimbun longsor.Dari lima orang itu, dua orang telah ditemukan dengan keadaan meninggal dunia, yakni Yelma Yunita (41) ditemukan pada Senin (1/12) dan Raffael Gusti Pratama (7) ditemukan pada Jumat (5/12). Sedangkan tiga korban lainnya, yakni Dian Fernanda (24), Amrizal (38) dan Nurhayati (35) masih dalam pencarian tim gabungan hingga hari ke sepuluh, Minggu (6/12).Data terakhir hingga Sabtu (6/12) malam di posko bencana alam Pasaman Barat mencatat 4 orang dilaporkan meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 orang luka, dan puluhan ribu warga harus mengungsi.Selain itu, tragedi banjir dan longsor menyebabkan 46 unit rumah rusak berat, 18 unit rusak sedang, 22 unit rusak ringan, 5.171 unit rumah terendam banjir, 13 unit rumah hanyut, dan 31 sekolah terdampak.Tragedi itu juga merusak 1 perkantoran, 3 fasilitas kesehatan terdampak, 6 tempat ibadah terendam, 12 jembatan rusak, 10 ruas jalan terdampak, dan 921,25 hektare lahan pertanian terdampak.Lihat Video 'Korban Bencana Sumatera: 916 Meninggal, 274 Hilang':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-03 22:29