Proyek Metaverse Meta di Ujung Tanduk?

2026-02-04 01:03:58
Proyek Metaverse Meta di Ujung Tanduk?
Ringkasan berita:– Meta Disebut Nyerah Bikin Metaverse, Bakal Pangkas Anggarannya di Tahun DepanTahun 2021 lalu, Facebook Inc berubah nama menjadi Meta. Perubahan nama ini didorong oleh ambisis besar pendiri perusahaan, Mark Zuckerberg.Zuck, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa metaverse adalah visi masa depan Facebook Inc.Sehingga, ia ingn Meta menjadi identitas baru yang sejalan dengan visi besar tersebut.Kini, di tahun 2025, alias empat tahun seteah rebranding, visi itu tampaknya mulai menyusut.Pasalnya, Meta disebut bakal memangkas anggaran divisi Reality Labs hingga 30 persen pada awal 2026 mendatang, tepat setelah perusahaan Mark Zuckerberg ini mulai menyusun anggaran tahunannya.Reality Labs membawahi seluruh inisiatif realitas virtual (VR), realitas campuran (XR), dan dunia virtual Meta, termasuk Horizon Worlds dan Metaverse.Baca juga: Zuckerberg Ungkap Alasan Facebook Ganti Nama Jadi MetaNah, informasi mengenai pemangkasan dana Reality Labs ini diumbar dalam sebuah laporan terbaru rilisan Bloomberg. Dalam laporan ini, sumber industri mengungkap bahwa Horizon Worlds kini menjadi salah satu proyek yang paling terdampak pemangkasan dari Reality Labs.Kabarnya, hal ini dipicu oleh berbagai hal, mulai dari popularitas yang tak sesuai harapan, kualitas grafis yang kurang bagus, dan dunia virtual itu sendiri yang dinilai kurang menarik minat pengguna. Selain Horizon Worlds, kategori perangkat VR juga disebut berpotensi terkena imbas besar.Lantas, apa prioritas Meta ke depan? Konon, perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California, AS itu disebut lebih fokus investasi pada perangkat Augmented Reality (AR) dan kacamata pintar (smart glasses).Dua di antaranya seperti rangkaian kacamata pintar bermerek Ray-Ban dan Oakley yang dinilai cukup diminati pengguna. Zuma Press/ Rafael Henrique Ilustrasi platform metaverse bikinan Meta, Horizon Worlds.Jika melihat laporan keuangan Meta, langkah pemangkasan ini bukan kejutan. Sebab sejak 2021, Reality Labs telah membukukan kerugian sekitar 70 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.160 triliun).Besarnya angka tersebut membuat divisi ini menjadi sasaran paling masuk akal bagi Meta, terutama ketika mereka ingin "menghemat" dan mengalihkan sumber daya ke sektor yang lebih menjanjikan, misalnya seperti kecerdasan buatan (AI).Baca juga: Proyek Metaverse Masih Bikin Rugi Induk FacebookMenurut sejumlah laporan, perangkat bikinan Reality Labs seperti Quest 3 dan Quest 3S sebenarnya mendapat ulasan positif sebagai headset XR yang terjangkau dan ringan.Namun tingkat adopsinya dinilai masih kurang dan belum cukup untuk menopang bisnis yang menelan kerugian puluhan miliar dollar AS tadi, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Gizmodo.Belum ada konfirmasi resmi dari Meta apakah kabar terkait pengurangan anggaran Reality Labs di atas, yang bisa berujung pada penghentian proyek dunia virtual Horizon Worlds, benar atau tidak.Tetapi jika hal ini akurat, Meta tampaknya siap meninggalkan mimpi dan ambisi Metaverse yang tak kunjung terwujud, dan mengalihkan fokus mereka ke proyek AI dan perangkat dan kacamata AR yang secara bisnis lebih menjanjikan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

“Fitur ini dapat memberi kendali kepada pengguna untuk menetapkan batas waktu menonton Shorts. Intervensi kecil seperti ini penting untuk membantu anak dan remaja belajar mengatur diri, jelas Graham.Pantauan KompasTekno, area Mental Health Shelf dan fitur pembatasan Shorts memang sudah bisa dijajal di Indonesia.Seperti disebutkan di atas, rak Mental Health Shelf yang dilabeli From health sources akan muncul ketika pengguna memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit mental.Baca juga: MTV Tutup Lima Channel Musik Akhir 2025, Tergeser YouTube dan Medsos?Sementara fitur pembatasan YouTube Shorts bisa diakses melalui menu pengaturan, tepatnya Settings > Time management > dan Shorts feed limit./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja mengatakan kedua fitur ini merupakan komitmen YouTube untuk membantu remaja Indonesia membangun kebiasaan digital yang lebih sehat serta mengakses informasi yang lebih bertanggung jawab.Di Indonesia, Suwandi menyebut kesehatan mental remaja akan menjadi salah satu fokus dan perhatian YouTube di Indonesia.“Kami sangat serius dengan komitmen kami soal kesehatan mental, dan ini akan menjadi topik yang akan terus menjadi fokus YouTube ke depannya,” kata Suwandi./Bill Clinten Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja dalam acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Meski jadi fokus YouTube di masa depan, Suwandi menambahkan bahwa dukungan kreator dan pakar menjadi elemen penting agar komitmen ini juga bisa dijalankan dengan baik.Baca juga: YouTube Sulap Video Burik Lawas Jadi Bening dengan AI“Kami membutuhkan bantuan dan kerja sama untuk melanjutkan komitmen kami dan program terkait kesehatan mental di masa depan, sekaligus memperluas jangkauannya,” pungkas Suwandi.

| 2026-02-03 23:01