Cucu Respons Usul Soeharto Jadi Pahlawan: Manusia Tak Luput dari Kesalahan

2026-01-14 02:43:58
Cucu Respons Usul Soeharto Jadi Pahlawan: Manusia Tak Luput dari Kesalahan
Cucu Presiden RI ke-2 Soeharto, Danty I Purnamasari, menanggapi soal pro dan kontra rencana pemberian gelar pahlawan untuk kakeknya. Ia menyinggung manusia tidak luput dari kesalahan."Kalau masalah pro dan kontra itu kan hal yang biasa ya. Jadi kalau harapan saya, masyarakat pun sendiri bahwa mereka juga merasakan dampak dari pembangunan yang sudah dilakukan oleh Pak Soeharto sendiri," kata Danty di DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, Minggu .Sebagai cucu Soeharto, Danty berharap kakeknya itu diberi gelar pahlawan. Sebab, banyak juga hal positif yang telah diberikan oleh Soeharto."Pro dan kontra itu adalah hal yang biasa pasti namanya manusia juga tidak luput dari kesalahan. Tapi kan kita harus melihat bahwa beliau itu hal positifnya pun juga banyak gitu ya, dan banyak pembangunan itu dirasakan oleh masyarakat," sebutnya.Lebih lanjut, Danty mengatakan pihak keluarga Soeharto telah menerima kabar bahwa pemberian gelar pahlawan akan dilakukan pada 10 November mendatang. Namun belum dijelaskan secara gamblang apakah pihak keluarga telah mendapat undangannya."Kalau keluarga menerima kabar, alhamdulillah kami juga sudah menerima kabar," kata Danty."(Terima undangan) kalau itu saya belum bisa jawab ya. Tapi mohon doa restunya dari semuanya mudah-mudahan ya Pak Harto mendapatkan gelar pahlawan," tambahnya. Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan daftar 49 nama yang akan diberi gelar pahlawan sudah diserahkan ke Presiden Prabowo Subianto. Penyerahan daftar nama-nama tersebut diberikan ke Presiden oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon."Ya tentu sudah dong (diserahkan ke Presiden), dari Dewan Gelar kan. Pak Fadli Zon kan sudah menghadap Presiden untuk menyerahkan nama-nama yang telah memenuhi syarat ya," ungkap Gus Ipul kepada wartawan di Jakarta Pusat, Sabtu .Gus Ipul memerinci nama-nama yang diusulkan terdiri atas 40 usulan baru serta 9 dari usulan sebelumnya yang belum ditetapkan oleh Presiden. Dia menjelaskan, dari 49 nama tersebut, terdapat sosok Presiden RI ke-2 Soeharto serta aktivis buruh Marsinah."Ada beberapa nama ya, di antaranya tentu Presiden Soeharto, Presiden Gus Dur, ada Syekhona Kholil Bangkalan, ada Kiai Bisri Syansuri, dan ada pejuang-pejuang lain dari berbagai provinsi. (Marsinah) ya masuk, masuk, (kategori) pejuang buruh Marsinah juga masuk dari 49 itu," terang Gus Ipul.Dia mengatakan pengumuman 49 nama yang akan diberi gelar pahlawan ini nantinya akan disampaikan langsung oleh Presiden. Dia pun meminta publik bersabar untuk menunggu kepastian daftar nama dari 49 tokoh yang akan diberi gelar pahlawan.Simak Video 'Surya Paloh Setuju Soeharto Jadi Pahlawan Nasional':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 01:45