Mengapa Desember Jadi Bulan ke-12, Padahal Namanya Berarti “10”?

2026-01-13 00:46:27
Mengapa Desember Jadi Bulan ke-12, Padahal Namanya Berarti “10”?
- Jika mendengar kata decade (dekade), kita langsung tahu artinya 10 tahun. Decagon berarti bangun bersisi 10, sementara decathlon adalah olahraga dengan 10 nomor. Secara logika, bulan December—yang berasal dari kata Latin decem (sepuluh)—seharusnya menjadi bulan ke-10.Namun kenyataannya, Desember duduk manis sebagai bulan ke-12 dalam kalender modern. Mengapa bisa begitu? Jawabannya adalah rangkaian perubahan kalender sejak era Romawi, lengkap dengan campur tangan raja, kaisar, hingga paus.Asal-usul kalender Romawi memang diperdebatkan, tetapi mayoritas sejarawan sepakat bahwa Romulus, raja pertama Romawi, merancang kalender sekitar abad ke-8 SM. Kalender ini didasarkan pada fase bulan, dan hanya memiliki 10 bulan, dimulai dari Maret dan berakhir pada Desember.Karena itu, bulan ketujuh hingga kesepuluh dinamai sesuai angka dalam bahasa Latin:Secara etimologis, nama “December” ini masih masuk akal. Yang tidak masuk akal justru hal berikutnya.Baca juga: Asal Nama Bulan-bulan Pada KalenderRomulus tidak memasukkan seluruh siklus musim ke dalam kalendernya. Ia membiarkan periode 50 hari di musim dingin tanpa bulan sama sekali—semacam “jurang tak bernama” antara Desember dan Maret.Menurut banyak sejarawan, penggantinya, Numa Pompilius, memperbaiki kekacauan ini dengan menambahkan dua bulan baru: Januari dan Februari, sehingga total menjadi 12 bulan seperti sekarang.Tetapi ada satu keputusan penting yang luput: Para Romawi tidak mengganti nama bulan-bulan lama, meskipun urutannya sudah bergeser dua posisi.Akibatnya, September yang berarti tujuh menjadi bulan ke-9, Oktober (delapan) menjadi bulan ke-10, November (sembilan) menjadi bulan ke-11, dan Desember (sepuluh) menjadi bulan ke-12.Baca juga: Asal-usul Nama Bulan dalam Kalender MasehiBerabad-abad kemudian, Julius Caesar melakukan perombakan besar-besaran dan memperkenalkan Kalender Julian, yang berbasis pada orbit bumi mengelilingi Matahari, bukan fase bulan. Sistem ini jauh lebih stabil, namun bahkan Caesar tidak mengubah nama-nama bulan yang sudah terlanjur “salah tempat” itu.Dengan demikian, kekeliruan penamaan pun diwariskan ke generasi berikutnya.Pada 1582 M, muncul reformasi berikutnya. Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian, yang digunakan di hampir seluruh dunia saat ini. Tujuannya adalah memperbaiki kekurangan Kalender Julian yang terlalu sering menambahkan tahun kabisat sehingga tanggal-tanggal keagamaan seperti Paskah bergeser.Salah satu perbaikan penting:Reformasi ini juga membuat beberapa panjang bulan disesuaikan, dan bahkan 10 hari pada Oktober 1582 lenyap begitu saja dari sejarah.Namun menariknya, setelah melakukan perubahan radikal tersebut Paus Gregorius tetap tidak menyentuh kesalahan penamaan September, Oktober, November, dan Desember.Dan begitulah, kekeliruan yang bermula dari kalender Romulus terus bertahan hingga zaman modern.Jadi Desember menjadi bulan ke-12 bukan karena makna katanya berubah, tetapi karena kalender Romawi mengalami banyak revisi tanpa pernah menyelaraskan kembali nama-nama bulan.Dari Romulus yang membuat kalender 10 bulan, Numa yang menambah dua bulan baru, Caesar yang beralih ke kalender matahari, hingga Paus Gregorius yang menyempurnakan sistemnya—tak satu pun mengoreksi penamaan tersebut.Hasilnya? “December,” bulan yang seharusnya berarti ke-10, kini menjadi bulan penutup tahun.


(prf/ega)