WASHINGTON, - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk memasukkan fentanyl ilegal ke dalam daftar "obat pemusnah massal", Senin ."Hari ini saya mengambil satu langkah lagi untuk melindungi warga AS dari momok fentanyl mematikan yang membanjiri negara kita dengan perintah eksekutif bersejarah ini," ujarnya di Ruang Oval, dikutip dari CNN, Selasa ."Tidak ada bom yang dapat melakukan apa yang dilakukan ini. Sekitar 200-300.000 orang meninggal setiap tahun, setidaknya yang kita ketahui" sambungnya.Pengumuman ini disampaikan dalam acara pemberian medali kepada anggota militer AS karena peran mereka dalam melindungi perbatasan.Baca juga: Ganja Setara Heroin di AS, Trump Berencana Longgarkan AturanBerdasarkan hukum AS, penggunaan, ancaman, atau percobaan penggunaan senjata pemusnah massal merupakan tindak pidana.Artinya, pelanggaran dapat dikenai hukuman mati, tergantung pada keadaannya. Hukum tersebut juga memberikan definisi untuk senjata pemusnah massal, mencakup senjata apa pun yang melibatkan entitas biologis, racun, atau vektor.Kendati demikian, klaim Trump itu bertentangan dengan data kematian akibat fentanyl dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).CDC melaporkan, dari 80.000 kematian akibat overdosis di negara itu pada 2024, sekitar 48.000 di antaranya disebabkan oleh opioid sintetis.Baca juga: Janji Balas ISIS, Trump Marah 3 Warga AS di Suriah DibunuhDikutip dari AFP, Selasa, perintah eksekutif itu menyatakan, fentanyl ilegal lebih mirip senjata kimia daripada narkotika."Pembuatan dan distribusinya mengancam keamanan nasional kita dan memicu pelanggaran hukum di belahan bumi kita dan di perbatasan kita," bunyi surat perintah itu.Klasifikasi fentanyl ini disebut berkaitan dengan perang pemerintahan Trump terhadap apa yang disebutnya sebagai "teroris narkoba". Hal ini mencakup kampanye militer yang menargetkan kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dengan serangan yang telah menewaskan hampir 90 orang sejak awal September 2025.Namun, kapal-kapal yang dihancurkan AS itu diduga mengangkut kokain, bukan fentanyl yang jauh lebih mematikan, yang terutama diselundupkan ke AS dari Meksiko, bukan melalui kapal dari Kolombia atau Venezuela.Baca juga: Ahmed El Ahmed Dipuji Australia dan Trump Usai Kalahkan Penembak Bondi BeachTrump menyertai serangan-serangan tersebut dengan pengerahan militer besar-besaran di Karibia, termasuk kapal induk terbesar di dunia dan sejumlah kapal perang lainnya.Serangkaian pesawat militer AS juga telah terbang di sepanjang pantai Venezuela dalam beberapa pekan terakhir.Trump dan pemerintahannya mengatakan, target dari peningkatan kekuatan militer adalah perdagangan narkoba.Namun, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menuduh Washington menggunakan penyelundupan narkoba sebagai dalih untuk perubahan rezim di Caracas.Amerika Serikat berupaya menghubungkan kedua isu tersebut, dengan menuduh Maduro memimpin sebuah organisasi kartel.
(prf/ega)
Trump Masukkan Fentanyl Ilegal ke Dalam Daftar "Obat Pemusnah Massal"
2026-01-12 05:31:19
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:43
| 2026-01-12 05:26
| 2026-01-12 04:45
| 2026-01-12 04:41
| 2026-01-12 04:32










































