- Universitas Brawijaya (UB) mendapat dukungan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) untuk memperkuat peran Indonesia dalam isu ketahanan air dan lingkungan pesisir di kancah global.Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, D.Sc. bertemu Plt. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Prof. Ananto Kusuma Seta, Ph.D. pada Jumat di Jakarta.Pertemuan ini menandai momentum penting terkait pengajuan resmi ke UNESCO Chair on Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas tahun 2026.UNESCO Chair dirancang untuk memberikan solusi ilmiah dan sosial yang nyata.Baca juga: UB Hapus UKT Korban Banjir Sumatera, Konversi SKS Mahasiswa yang Jadi Relawan Proposal yang digagas oleh Coastal and Marine Research Center (PSPK) UB muncul atas kesadaran bahwa masalah pesisir mulai dari intrusi air laut yang semakin dalam, sedimentasi yang parah, hingga penurunan kualitas air yang berdampak pada akuakultur.UB melihat situasi ini merupakan tantangan serius, tidak hanya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tetapi juga secara global.Mengutip situs UB, Selasa Ananto menyambut positif inisiatif ini dengan menekankan bahwa isu tersebut sangat strategis bagi Indonesia.Ia mendukung langkah ini karena Chair tersebut akan membawa nama Indonesia sebagai pusat pengetahuan (knowledge hub) regional bagi negara-negara kepulauan dan pesisir di Asia Tenggara dan Pasifik.Yang menjadi fokus ialah mengembangkan solusi untuk kelangkaan air, intrusi air laut, dan kualitas air pesisir.Baca juga: Pakar UB Pernah Jadi Transmigran di Sumatera, Sebut Banyak Faktor BanjirTHINKSTOCKS/DEVONYU Ilustrasi risetProposal UB mengusulkan tiga riset ambisius untuk bertransformasi menjadi dampak nyata. Yang pertama, Ecohydrology Observatory yaitu, pembentukan pusat data dan pemantauan kualitas air pesisir.Kedua adalah Living Labs, mengubah desa pesisir, seperti di Malang Selatan dan Tuban Utara, menjadi lokasi riset terapan, pendampingan, dan pengembangan program ketahanan air yang langsung terhubung dengan masyarakat.Ketiga adalah Capacity Building, penyelenggaraan summer school ASEAN, policy labs, dan penyusunan panduan “Coastal Ecohydrology for Tropical Archipelagos”.Sementara inovasi yang telah diterapkan ada Greenhouse Salt Tunnel (GST) untuk produksi garam berkelanjutan dan Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya ramah lingkungan.KNIU mendorong UB untuk segera memfinalisasi proposal.Bagi UB, UNESCO Chair ini bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi sebuah percepatan kontribusi nyata untuk ketahanan air nasional dan regional.Baca juga: Hilirisasi Riset Kampus Tersumbat, Rektor UB Berharap Danantara MelancarkanPengajuan ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan prioritas UNESCO yakni Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).Secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 13 (Aksi Iklim), dan SDG 14 (Kehidupan Bawah Air).
(prf/ega)
UB Dapat Dukungan dari UNESCO untuk Jaga Ketahanan Air dan Lingkungan Pesisir
2026-01-11 22:01:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:33
| 2026-01-11 21:40
| 2026-01-11 21:25
| 2026-01-11 21:09
| 2026-01-11 20:16










































