Penemuan Rafflesia Hasseltii di Sumbar, Ilmuwan Indonesia Berperan Kunci

2026-01-12 16:19:28
Penemuan Rafflesia Hasseltii di Sumbar, Ilmuwan Indonesia Berperan Kunci
- Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) Zita Anjani menegaskan ilmuwan Indonesia memiliki peran kunci dalam menemukan, memetakan, hingga meriset bunga Rafflesia Hasseltii di Hutan Sumatera Barat bukan hanya lembaga asing seperti Oxford University atau mitra internasional lainnya.Rafflesia merupakan bunga parasit raksasa yang sangat sulit ditemukan karena tidak memiliki batang dan daun, hidup terbatas di habitat tertentu, serta hanya mekar dalam hitungan hari.Oleh karena itu, pengetahuan ekologis dan keahlian ilmuwan lokal menjadi faktor utama yang memungkinkan penemuan ini kembali terjadi.Menurut Zita Anjani, peneliti lokal seperti Iswandi, Joko Witono, dan Septi Andriki yang telah bertahun-tahun melakukan pemetaan, merintis jalur hutan terpencil, bekerja bersama masyarakat adat, hingga menjaga catatan ilmiah mengenai habitat Rafflesia.Baca juga: 6 Tempat yang Bisa Dikunjungi untuk Lihat Bunga Rafflesia yang Mekar“Publik harus tahu bahwa tanpa mereka, riset global pun tidak mungkin berjalan,” tegas Zita dalam keterangan tertulis, Rabu .Zita menekankan bahwa Indonesia tetap terbuka untuk kolaborasi internasional, tetapi kontribusi ilmuwan lokal wajib diakui setara agar kerja sama riset berjalan adil, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi konservasi serta pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis sains.“Kolaborasi global penting. Tapi pengetahuan lokal harus dihargai setara. Tanpa ilmuwan Indonesia, Rafflesia tak akan ditemukan," tambah Zita.Baca juga: 6 Perbedaan Harus Diketahui Antara Bunga Bangkai dan RafflesiaZita juga menekankan pengakuan kepada ilmuwan lokal bukan hanya soal penghargaan individu, melainkan bagian dari pembangunan kebijakan nasional di sektor konservasi dan pariwisata berkelanjutan.“Konservasi bukan hanya menjaga bunga atau hutan. Ini juga tentang menjaga martabat ilmu pengetahuan milik bangsa. Kalau ilmuwan Nusantara tidak mendapat tempat yang setara, maka strategi pariwisata berbasis sains pun akan kehilangan pijakan,” ujar Zita.Penemuan ulang ini tidak hanya membuka peluang riset lebih lanjut, melainkan juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia yang dipimpin oleh ilmuwan Nusantara.


(prf/ega)