SBY Malu dan Tersinggung Trump Jadi Penengah Konflik Kamboja-Thailand, Harusnya Serahkan ke ASEAN

2026-01-16 08:52:51
SBY Malu dan Tersinggung Trump Jadi Penengah Konflik Kamboja-Thailand, Harusnya Serahkan ke ASEAN
JAKARTA, -Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa prihatin ketika tahu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat disebut-sebut sebagai pihak penengah dalam konflik Kamboja dan Thailand."Ini beda lagi ketika terjadi konflik antara Kamboja sama Thailand, tiba-tiba Donald Trump yang menjadi penengah dan saya merasa embarrassing, humiliated," ujar SBY dalam diskusi Purnomo Yusgiantoro Center Talks bertema ‘Keamanan Nasional Indonesia dalam Dinamika Tantangan Global’ di Jakarta, Senin .Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan berkurangnya peran dan wibawa ASEAN dalam menyelesaikan persoalan di dalam kawasannya sendiri.Padahal, kata dia, ASEAN masih memiliki sumber daya dan kepemimpinan yang mumpuni untuk memelihara stabilitas regional.Baca juga: Momen Reuni SBY dan Eks Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Ada Dahlan Iskan dan Siti Fadilah"Dulu juga ada konflik antara Kamboja sama Thailand, saya masih bicara ASEAN, kita diminta menengahi dan kita tengahi. Alhasil berhasil, bertahan hingga 13 tahun," beber SBY.Dia pun menilai ASEAN saat ini tidak lagi sekohesif seperti dulu.Ia mengaku prihatin melihat dinamika yang terjadi di kawasan, terutama dalam hal penanganan konflik antarnegara anggota.“Yang perlu juga saya sampaikan adalah ASEAN. ASEAN itu menurut saya, maaf, ini tidak sekohesif dulu. Saya agak tersinggung sebagai former leader, yang juga aktif di ASEAN," kata SBY.SBY pun menilai bahwa sosok seperti Presiden Prabowo Subianto memiliki potensi besar untuk memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, sebagaimana yang dulu dilakukan Indonesia.Baca juga: SBY Nilai Persaingan AS dan China Tak Akan Berhenti"Kan masih ada Indonesia, kenapa? Masih ada pemimpin ASEAN. Kita bisa. Nah kalau saya, Trump itu lebih bagus menjadi sebagai peace maker-nya mencegah perang dunia ketiga, mencegah membaranya mandala konflik di Asia, di Eropa, dan di Timur Tengah. Level beliau di situ," tutur dia."Nah yang seperti itu (Kamboja vs Thailand) diserahkan sama ASEAN. Sehingga ASEAN juga punya resources, kita punya Pak Prabowo. Ini pengamatan saya seorang seniman," tambahnya diiringi tepuk tangan hadirin.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-16 07:22