Longsor Banjarnegara Rugikan Rp 32,33 Miliar, 182 Rumah dan Jaringan Listrik Rusak

2026-01-12 01:37:58
Longsor Banjarnegara Rugikan Rp 32,33 Miliar, 182 Rumah dan Jaringan Listrik Rusak
SEMARANG, - Longsor yang terjadi di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, pada Minggu menyebabkan kerugian besar yang ditaksir mencapai Rp 32,33 miliar.Kerugian tersebut mencakup rumah rusak, ternak mati, hingga jaringan listrik terdampak.Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Chomsul, mengatakan 182 rumah terdampak, dengan rincian 128 rumah rusak ringan dan 54 rumah rusak berat.Sementara kerusakan infrastruktur juga terjadi pada jalan sepanjang 800 meter, jaringan listrik, irigasi sepanjang 670 meter, satu bangunan bendung, irigasi perpipaan, serta fasilitas sosial berupa satu masjid rusak berat dan dua mushala terancam.Baca juga: Empat Hari Longsor Banjarnegara, 3 Meninggal, 25 Warga Masih Hilang, 934 Warga Mengungsi"Dari sisi ekonomi, kerugian juga dialami warga akibat hilangnya ternak, yakni 5 ekor sapi dan 125 ekor kambing, serta kerusakan 14 warung dan lahan pertanian. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 32,33 miliar," tutur Chomsul melalui pesan singkat, Kamis .Sementara itu, tiga warga meninggal dan operasi pencarian 25 korban hilang terus berlanjut oleh tim gabungan.Sampai dengan Kamis , tercatat ada tiga warga meninggal dunia, satu orang luka, dan 25 warga masih dalam proses pencarian.Saat ini tim masih berfokus untuk menemukan korban yang hilang."Hingga Kamis pagi, BPBD mencatat 3 warga meninggal dunia, 1 orang luka-luka, dan sebanyak 25 warga masih belum ditemukan. Proses pencarian dilakukan sejak pagi hari dan menjadi prioritas utama tim gabungan," lanjutnya.Baca juga: Longsor di Banjarnegara dan Cilacap, Pemkab Magelang Kirim Bantuan 2,5 Ton Sayur dan Air BersihDia juga menyampaikan, terdapat 934 pengungsi dari 335 KK yang terdiri dari 454 laki-laki dan 480 perempuan.Mereka tersebar di lima titik pengungsian resmi serta sejumlah rumah warga.BPBD menyebut para pengungsi masih memperlukan sejumlah logistik.Dia merinci, sejumlah kebutuhan yang paling mendesak bagi pengungsi, seperti popok dan perlengkapan mandi/pakaian, susu dan makanan anak, hygiene kit, dan antiseptik.Kemudian, alas tidur dan alat kebersihan, regulator gas, APD untuk petugas, serta layanan psikososial, terutama bagi keluarga korban yang hilang.Baca juga: 26 Korban Longsor Banjarnegara Masih Hilang, Alat Berat Mulai DikerahkanLebih lanjut, operasi pencarian dan layanan pengungsi berlanjut untuk pencarian korban hilang, pendampingan pengungsi, hingga operasional dapur umum."Sebanyak 521 personel dari berbagai unsur dikerahkan dalam operasi ini. Mereka berasal dari BNPB, BPBD provinsi dan kabupaten, TNI–Polri, tenaga kesehatan, dinas teknis, PMI, TRC, relawan potensi SAR, ormas, hingga komunitas lintas daerah," tuturnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-12 11:09