Koperasi Tak Lagi Simpan Pinjam, Pemerintah Siapkan Lompatan ke Manufaktur

2026-01-14 17:33:53
Koperasi Tak Lagi Simpan Pinjam, Pemerintah Siapkan Lompatan ke Manufaktur
JAKARTA, - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mulai mengubah arah gerak koperasi nasional agar masuk ke sektor manufaktur.Ia menilai koperasi bisa memproduksi kebutuhan sehari-hari seperti sampo, sabun, kecap, dan saus. Produk itu diproduksi secara mandiri lalu dijual melalui outlet koperasi.Dengan skema ini, koperasi tidak hanya bergerak sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi naik menjadi pemain manufaktur nasional.“Nah koperasinya ini kami akan dorong untuk membiayai kooperasi-kooperasi yang akan membuat pabrik-pabrik manufaktur sendiri. Mulai dari pabrik sampo sendiri, pabrik sabun sendiri, pabrik kecap, pabrik saos, apapun pabriknya. Kita akan produksi sendiri, akan kita jual sendiri di outlet-outlet koperasi desa," ujar Ferry dalam acara Temu Mitra LPDB Koperasi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis .Baca juga: FILONOMICS: Menkop Blak-blakan soal Peran TNI di Kopdes Merah PutihFerry menyampaikan rencana bertemu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membahas penambahan anggaran bagi Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi. Tambahan modal dipandang penting untuk mendorong koperasi naik kelas.LPDB Koperasi merupakan lembaga keuangan bukan bank di bawah Kemenkop yang menyalurkan pinjaman kepada koperasi."Dan LPDB juga sekarang insya Allah kami dorong semakin baik, saya akan ada pertemuan dengan Pak Menteri Keuangan untuk bisa menambah modal di LPDB," paparnya.Ferry menegaskan LPDB Koperasi memegang peran strategis sebagai penyalur pembiayaan agar koperasi bisa memperluas usaha. Ia menolak koperasi hanya berfokus pada layanan simpan pinjam.Gagasan ini berkaitan dengan penguatan ekosistem Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP) yang ditargetkan menjadi dasar ekonomi desa.Baca juga: Menkop: 30.500-an Titik Tanah Siap untuk Dibangun Kopdes Merah PutihUntuk mewujudkan rencana tersebut, Ferry akan mengusulkan tambahan anggaran LPDB kepada Kementerian Keuangan. Ia belum menjelaskan berapa besar anggaran yang akan diajukan.“Belum ketemu, tapi idenya kami akan minta tambahan untuk memperkuat permodalan dari LPDB," ujar Ferry.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Hadir pula fitur Emotional Virtual Experience (EVE) yang memungkinkan pelanggan memvisualisasikan konfigurasi kendaraan secara digital dengan tampilan menyerupai foto realistis.Konsumen dapat memperoleh pengalaman VIP Delivery dalam proses serah terima kendaraan yang lebih personal sesuai waktu dan kebutuhan.Dari sisi keberlanjutan, BMW MINI Tunas Bekasi mengimplementasikan sistem pengelolaan limbah berbasis biomaterial.Limbah oli dari layanan purnajual diproses melalui filtrasi bioarik dengan struktur sarang lebah dan bakteri anaerob sehingga residu limbah dapat ditekan hingga di bawah tujuh persen.Teknologi ini digunakan untuk memastikan kualitas pengolahan limbah sesuai standar lingkungan otomotif modern.Seluruh model BMW yang dipasarkan melalui jaringan resmi mendapatkan program BMW Service Inclusive selama enam tahun, garansi lima tahun tanpa batas jarak tempuh.Baca juga: Kebutuhan Regulasi Penjualan Mobil Bekas di IndonesiaKemudian juga perlindungan ban dua tahun, serta layanan BMW Roadside Assistance selama tiga tahun yang mencakup bantuan derek dan mobil pengganti sesuai ketentuan.Peresmian BMW, BMW M, dan MINI Tunas Bekasi menjadi flagship pertama kami di kawasan ini dan mencerminkan investasi strategis untuk memperkuat kehadiran BMW Tunas di Bekasi. Fasilitas baru ini dibangun dengan konsep Retail.Next dengan standar tinggi, kata Rico Setiawan, President Director BMW Tunas.Langkah ini sekaligus memperluas jangkauan BMW Tunas dalam melayani masyarakat Bekasi dan Jakarta Timur, serta menunjukkan keseriusan kami dalam menghadirkan pengalaman ritel otomotif premium yang relevan dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan masa kini, tambahnya.

| 2026-01-14 17:10