95 Ribu Warga Brebes Menganggur: Pria Susah Cari Kerja, Pabrik Lebih Butuh Perempuan

2026-01-14 06:21:02
95 Ribu Warga Brebes Menganggur: Pria Susah Cari Kerja, Pabrik Lebih Butuh Perempuan
BREBES, - Gelaran Job Fest di Brebes, Jawa Tengah disambut antusias warga. Acara ini diharapkan bisa menekan jumlah pengangguran yang mencapai 95 ribu orang.Di balik itu, terdapat keluhan sulitnya laki-laki dalam mencari pekerjaan.Job Fest akan digelar selama dua hari, mulai Rabu hingga Kamis . Para pencari kerja berharap lowongan kerja bagi laki-laki benar-benar terbuka lebar.Sebab, selama ini para pencari kerja mengeluhkan banyak pabrik yang lebih mempekerjakan perempuan.Salah satu pencari kerja, Aditya (24), mengaku setelah lulus kuliah, dalam setahun ini sulit mencari pekerjaan. Sudah lebih dari lima kali melamar ke perusahaan di Brebes, namun selalu ditolak.Ia beralasan kesulitan itu dikarenakan tidak memiliki kenalan orang dalam, sehingga tidak bisa masuk prioritas. Di sisi lain, menurut Aditya, lowongan pekerjaan bagi laki-laki juga lebih sedikit dibanding perempuan, meski ia tidak mengetahui persis apa alasannya."Perempuan gampang, laki-laki nyatanya susah," katanyaBaca juga: Sebulan Digaris Polisi, Atap Teras Kantor Pemkab Brebes yang Ambruk Akhirnya Dibongkar.Erik (25), pencari kerja lainnya juga mengatakan demikian. Ia menyebut lowongan pekerjaan lebih terbuka lebar bagi perempuan dibanding laki-laki.  "Memang selama ini lebih banyak perempuan. Tapi saya optimistis yang penting saya ada pengalaman," pungkas Erik.Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), 95.679 warga di Kabupaten Brebes masih menjadi pengangguran dengan dominasi laki-laki. Jumlah pengangguran laki-laki mencapai 60.459 orang, dan perempuan 35.220 orang.Jumlah itu menempatkan Brebes sebagai peringkat pertama dengan tingkat pengangguran tertinggi di Provinsi Jawa Tengah.Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, mengatakan pihaknya sedang berupaya keras mengurangi angka pengangguran. Salah satunya melalui Job Fest yang diikuti 34 perusahaan lokal hingga multinasional."Kami berupaya untuk menekan angka pengangguran. Membuka 10 ribu lowongan pekerjaan di berbagai macam posisi. Dan sudah ada 34 perusahaan yang ikut hari ini," kata Paramitha usai membuka Job Fest, Rabu .Baca juga: Sudah 3.400 Relawan Penjamah Makanan MBG di Brebes Kantongi SertifikatBupati melanjutkan, hingga saat ini sudah ada 68 perusahaan yang beroperasi di Brebes. Seluruhnya merupakan perusahaan Penanam Modal Asing (PMA). Tahun ini, juga akan ada sekitar 10 perusahaan asing bakal membangun pabrik di Brebes.Kepala Dinperinaker Brebes, Warsito Eko Putro, mengakui, kebanyakan perusahaan di Brebes membutuhkan pekerja perempuan karena mayoritas pabrik memproduksi alas kaki dan garmen.Meski demikian, pihaknya terus mengupayakan dan meminta para HRD setiap perusahaan di wilayahnya untuk bisa merekrut pekerja laki-laki.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 04:30