Inflasi Halus, Daya Beli Tergerus

2026-02-05 07:33:57
Inflasi Halus, Daya Beli Tergerus
BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Oktober 2025 sebesar 2,86 persen (year-on-year). Sekilas, angka ini terlihat jinak—tidak melonjak, tidak menimbulkan kepanikan, dan masih berada dalam rentang target pemerintah.Namun, kenaikan harga pelan yang terjadi pada banyak komoditas justru menjadi sinyal penting bagi rumah tangga.Uang belanja terasa lebih cepat habis, paket kebutuhan pokok semakin mahal, dan tabungan tidak lagi cukup kuat menahan kenaikan harga.Bila inflasi belum tinggi tetapi sudah “menggerus”, apakah masyarakat terlambat menyadarinya?Para ekonom menyebut inflasi di bawah 3 persen sebagai inflasi moderat, level yang dianggap sehat karena mencerminkan aktivitas pasar tetap bergerak tanpa gejolak berlebihan.Teori Phillips Curve menyebut inflasi moderat sering muncul ketika permintaan dan pasar tenaga kerja stabil (Phillips, 1958).Bahkan Bank Indonesia berkali-kali menegaskan bahwa inflasi rendah adalah fondasi kestabilan ekonomi nasional.Gubernur Bank Indonesia pernah menyampaikan bahwa “inflasi rendah adalah syarat utama stabilitas makro dan daya beli masyarakat” (Bank Indonesia, 2024).Baca juga: Siapkah Indonesia jika Krisis Mengetuk Pintu Ekonomi Lagi?Namun, istilah “moderate” dari perspektif statistik berbeda dengan kenyataan di dapur rumah tangga.Kenaikan tipis pada harga beras, minyak goreng, listrik, hingga tarif jasa terjadi bersamaan. Inilah smooth inflation effect: inflasi tidak mengagetkan, tetapi pelan-pelan mengurangi kemampuan belanja keluarga.Masyarakat merasakan inflasi ketika harga naik, tetapi pendapatan tidak bergerak. Seperti dijelaskan Samuelson & Nordhaus (2010), inflasi menurunkan “nilai riil” uang—jumlah yang sama membeli lebih sedikit barang.Contohnya sederhana. Jika belanja bulanan Rp 1.000.000 tahun lalu, maka dengan inflasi 2,86 persen, kebutuhan yang sama kini memakan Rp 1.028.600.Selisihnya terlihat kecil, tetapi jika terjadi setiap bulan, setahun bisa melampaui Rp 300.000. Bagi keluarga menengah ke bawah, angka ini sangat berarti.Kelompok paling rentan adalah pekerja berpendapatan tetap: buruh, guru honorer, pegawai kontrak, pedagang kecil, dan driver harian.International Labour Organization (ILO) menegaskan bahwa upah perlu mengikuti minimal laju inflasi untuk menjaga daya beli pekerja (ILO, 2022). Ketika upah tetap, sementara harga naik, daya beli menurun dan tekanan ekonomi rumah tangga meningkat.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-05 07:29