Waspada Cuaca Ekstrem di Banten hingga 3 Januari 2026, BMKG Ungkap Pemicu dan Wilayah Terdampak

2026-02-04 03:06:51
Waspada Cuaca Ekstrem di Banten hingga 3 Januari 2026, BMKG Ungkap Pemicu dan Wilayah Terdampak
- Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II (BBMKG Wilayah II) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Provinsi Banten.Peringatan ini berlaku pada periode 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, dengan ancaman hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang.Peringatan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya dinamika atmosfer yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama menjelang dan saat perayaan malam Tahun Baru 2026.Baca juga: Prakiraan BMKG: Ini Wilayah yang Akan Hujan Lebat 30–31 Desember 2025Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto, menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem di Banten dipengaruhi oleh keberadaan Siklon Tropis Hayley yang terpantau di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, serta Bibit Siklon 90S di Samudra Hindia barat daya Banten.“Siklon Tropis Hayley terpantau dengan kecepatan angin maksimum sekitar 45 knot atau 83 kilometer per jam dan tekanan minimum 989 hPa. Sistem ini berpotensi meningkat menjadi kategori dua dalam 24 jam ke depan, meskipun bergerak menjauhi wilayah Indonesia,” kata Hartanto dikutip dari Antara.Ia menambahkan, meskipun pusat siklon bergerak menjauh, dampak tidak langsungnya masih dapat memengaruhi kondisi cuaca di wilayah Banten.Baca juga: Istana: Prabowo Minta BMKG Tambah Alat Modifikasi CuacaSelain faktor siklon tropis, kondisi atmosfer di wilayah Banten juga diperkuat oleh aktifnya gelombang Equator Rossby dan Low Frequency.Kelembapan udara yang tinggi serta atmosfer yang relatif labil turut berperan dalam meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.“Kombinasi faktor tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan dan angin kencang di wilayah Banten dalam sepekan ke depan,” ujarnya.Baca juga: Siklon Tropis Hayley dan Bibit Siklon Tropis 98S Terdeteksi di Indonesia, BMKG Peringatkan Wilayah TerdampakBBMKG Wilayah II memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang terjadi di sejumlah daerah, antara lain:Sementara itu, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di:Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan di Pulau Jawa hingga Sumatera Terjadi Januari 2026Hartanto menyampaikan bahwa potensi hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan masih berlanjut hingga malam pergantian tahun.“Pada malam Tahun Baru 2026, hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan berpotensi terjadi di Kabupaten Pandeglang bagian barat dan utara serta Kabupaten Serang bagian barat dan selatan,” katanya.Adapun wilayah lain diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, meliputi:Baca juga: Kenapa Curah Hujan Meningkat di Akhir Tahun 2025? Ini Kata Kepala BMKG Selain hujan dengan intensitas tinggi, BBMKG juga mengingatkan potensi angin kencang dengan kecepatan hingga 45 kilometer per jam. Angin kencang ini berpotensi terjadi di:Baca juga: Mensesneg Minta BMKG Monitor Cuaca dan Iklim Jelang Pergantian Tahun Kondisi tersebut berisiko menimbulkan dampak lanjutan seperti pohon tumbang, gangguan jaringan listrik, hingga kerusakan bangunan ringan.Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, Hartanto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang.“Masyarakat diharapkan melakukan langkah antisipatif, mengamankan lingkungan sekitar, serta memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas sumbernya,” ujar Hartanto.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-04 01:56