Anak Muda Tolak Pembatasan Thrifting, Sebut Jadi Cara Hemat di Ekonomi Sulit

2026-01-30 16:28:39
Anak Muda Tolak Pembatasan Thrifting, Sebut Jadi Cara Hemat di Ekonomi Sulit
- Di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit dan harga barang-barang yang terus naik, banyak anak muda mencari cara agar tetap bisa tampil modis tanpa harus menguras dompet. Salah satu caranya adalah dengan berburu pakaian thrift atau barang bekas layak pakai.Bagi sebagian orang, thrifting bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi kebutuhan. Selain karena harganya yang jauh lebih terjangkau, pilihan model yang unik dan bahan yang masih bagus membuat pakaian thrift terasa lebih “worth it” dibanding beli baru.Hal itu juga dirasakan oleh seorang pembeli thrift, Aika (19), yang mengaku lebih sering memilih pakaian bekas dibandingkan membeli produk baru di toko ritel.“Menurut aku, thrifting tuh in this economy is a must, ” ujar Aika saat ditemui Kompas.com, di kawasan Depok Town Square, Jawa Barat, Senin .Baca juga: Larangan Impor Pakaian Bekas Bisa Ancam Lapangan Kerja, Ini Kata Pedagang Thrifting di DepokAika menilai kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang harus lebih bijak dalam membelanjakan uangnya, terutama untuk kebutuhan fesyen.“Zaman sekarang tuh mau beli murah, tapi baru juga sayang, karena walaupun murah, walaupun ori dan murah tuh belum tentu kualitasnya bagus,” katanya.Ia membandingkan, pakaian thrift justru sering kali memiliki kualitas bahan yang lebih baik dibandingkan beberapa produk baru di pasaran.“Jadi kalau thrifting, barang dan bahannya lebih bagus, terus kualitasnya masih oke, harganya murah. Walaupun thrifting, I think it's more worth it to thrift daripada beli baru,” lanjutnya.Bagi Aika, pakaian thrift bukan hanya soal harga, tapi juga soal nilai guna. Ia merasa banyak pakaian baru yang cepat rusak atau tidak awet, sehingga justru membuat pembeli merasa membuang uang percuma.Pinterest Ilustrasi gaya barrel jeansBaca juga: Pedagang Thrifting di Depok Bingung Hadapi Larangan Impor Pakaian BekasTak hanya Aika, Grace (18) juga merasakan hal yang sama. Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) ini mengaku, thrifting sudah menjadi penyelamat gaya sehari-harinya di tengah keterbatasan anggaran anak kos.“Jangan membatasi thrift. Karena itu sangat membantu. Apalagi kita kayak anak kos budget (anggaran) kita enggak begitu besar. Apalagi kita di FIB, jadi kadang-kadang kita harus pakai baju culture (budaya),” ungkap Grace dalam kesempatan yang sama.Baca juga: Cara Mencuci Baju Thrifting agar Aman di Kulit Menurut PakarSelain harga yang lebih ramah di kantong, hal lain yang membuat Aika tetap tertarik dengan thrifting adalah variasi model pakaian yang tidak bisa ditemui di toko biasa.Menurutnya, pakaian thrift sering kali punya karakter khas dan model yang jarang ada di pasaran, berbeda dengan beberapa produk lokal.Alasan para pembeli ini menunjukkan bahwa thrifting kini bukan lagi sekadar hobi atau gaya hidup alternatif, tapi solusi nyata bagi banyak anak muda untuk tetap bergaya tanpa terbebani harga.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-01-30 15:25