Temuan Jaring Bambu Murah dan Petaka Kebakaran Apartemen di Hong Kong

2026-02-04 10:57:59
Temuan Jaring Bambu Murah dan Petaka Kebakaran Apartemen di Hong Kong
- Pejabat Hong Kong baru-baru ini mengungkap bahwa kontraktor proyek apartemen yang dilanda kebakaran dahsyat, menewaskan lebih dari 150 orang, diduga menggunakan jaring perancah berkualitas rendah dan kemudian berupaya menutupinya.Mengutip New York Times pada Selasa , Independent Commission Against Corruption, lembaga anti korupsi di Hong Kong, menyampaikan bahwa setelah topan melanda pada musim panas lalu, sejumlah jaring perancah di kompleks Wang Fuk Court, Hong Kong bagian utara, diganti dengan material murah yang tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran.Untuk menghindari temuan para inspektur, kontraktor memasang jaring yang sesuai standar hanya pada bagian bawah perancah, di lokasi yang umumnya dijadikan titik pengambilan sampel.Jaring tersebut berfungsi melindungi pejalan kaki dari material yang berpotensi jatuh dari perancah bambu, yang lazim digunakan pekerja konstruksi saat memperbaiki bagian luar gedung di Hong Kong.Baca juga: Mengapa Kompleks Apartemen Wang Fuk Court Hong Kong Terbakar?Temuan ini muncul di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa akibat kebakaran Rabu lalu, yang kini tercatat mencapai 151 orang.Polisi masih memeriksa menara apartemen untuk menemukan jenazah serta mengumpulkan bukti identifikasi, sementara lebih dari 40 orang dilaporkan masih hilang.Pejabat memperkirakan proses pencarian dan identifikasi korban bisa berlangsung hingga tiga minggu ke depan.Skala kebakaran yang sangat besar terlihat dari pernyataan kepolisian yang menyebut bahwa sebagian jenazah terbakar hingga menyisakan abu, dan kemungkinan ada korban yang tidak dapat ditemukan sama sekali.Laporan terbaru mengenai faktor penyebab kebakaran terburuk dalam beberapa dekade di Hong Kong ini memicu pertanyaan serius terkait praktik industri konstruksi dan efektivitas pengawasan pemerintah.Baca juga: Tragedi Wang Fuk Court Hong Kong dan Jerat Hunian Vertikal AsiaPenyelidikan mengungkap adanya celah regulasi yang memungkinkan material berbahaya dipasang di sejumlah bangunan, mulai dari jaring pengaman di bawah standar hingga papan busa polistiren yang mudah terbakar dan diduga mempercepat penyebaran api.Pengungkapan ini berpotensi memperbesar amarah publik, terlebih karena warga sekitar telah berkali-kali memperingatkan pihak berwenang selama lebih dari setahun mengenai potensi bahaya, termasuk soal jaring pengaman tersebut.Pekan lalu, otoritas setempat sempat menyatakan jaring di Wang Fuk Court memenuhi standar keselamatan kebakaran berdasarkan uji awal.Namun pada Senin , Menteri Keamanan Chris Tang menjelaskan bahwa sampel yang diuji sebelumnya diambil dari bagian dasar gedung yang tidak terdampak kebakaran.Ia mengakui bahwa hasil uji tersebut sangat berbeda dengan temuan di lapangan maupun pengamatan para ahli dan warga setelah kejadian.Baca juga: Sejarah Autobahn, Jalan Tol di Jerman yang Digratiskan untuk MobilSementara melansir ABC News, sebelum kebakaran, seluruh bangunan di kompleks apartemen tersebut sudah dibungkus perancah bambu yang dilapisi jaring nilon sebagai bagian dari pekerjaan renovasi eksterior.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 08:49