Stabilitas Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Jalan di Tempat

2026-01-12 03:43:53
Stabilitas Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Jalan di Tempat
GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tahun 2026 tetap “pro-stability and pro-growth.”Di tengah tekanan global, BI memilih memastikan inflasi terkendali, nilai tukar stabil, dan pasar keuangan aman, sembari tetap memberi ruang bagi pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial longgar dan dukungan terhadap kredit produktif.Namun, masyarakat perlu bertanya: apakah kombinasi stabilitas dan pertumbuhan yang dijanjikan itu cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen?Stabilitas memang terjaga. Data BPS menunjukkan inflasi 2025 berada di kisaran 2,7 persen, masih dalam target BI 1,5–3,5 persen.Volatilitas rupiah pun terkendali; BI mencatat rupiah bergerak relatif stabil di rentang Rp 15.400–15.700 per dollar AS, jauh lebih tenang dibanding gejolak pada banyak negara berkembang lain.Baca juga: Bandara dan Pelabuhan IMIP: Infrastruktur dan Fakta yang TerabaikanStabilitas ini penting karena teori macroeconomic equilibrium menyebutkan bahwa ekspektasi yang tenang akan mendorong konsumsi dan investasi yang lebih sehat (Mankiw, 2019).BI juga aktif menjaga pasar valas melalui DNDF, intervensi spot, dan pembelian SBN ketika tekanan eksternal meningkat. Stabilitas ini membuat Indonesia tidak masuk dalam kategori fragile emerging markets.Namun, stabilitas hanya memberi keamanan, bukan akselerasi. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 hanya sekitar 5,05 persen, stagnan selama delapan kuartal terakhir.Stabilitas membuat ekonomi tidak jatuh, tetapi tidak otomatis membuatnya melesat (Mankiw, 2019; BPS & BI 2025).BI sudah memberi sinyal ruang pelonggaran suku bunga acuan. BI-Rate stabil di 4,75 persen, tetapi kredit perbankan hanya tumbuh 8,5 persen, padahal idealnya harus tumbuh 10–12 persen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen.Inilah persoalan transmisi yang lemah. Fenomena special rate membuat bank menahan penurunan suku bunga kredit, karena persaingan memperebutkan dana mahal.Teori financial accelerator menegaskan bahwa kredit adalah katalis yang menentukan kecepatan roda ekonomi (Bernanke, Gertler & Gilchrist, 1996).Ketika kredit tersendat, investasi tertahan, konsumsi besar tertahan, dan sektor riil kehilangan bensin untuk bergerak.Dampaknya terlihat jelas: pembentukan modal tetap bruto (PMTB) — indikator investasi — hanya tumbuh sekitar 3,8 persen, jauh di bawah kebutuhan untuk mencapai pertumbuhan 6 persen.Artinya, walaupun kebijakan BI pro-growth di atas kertas, realitasnya pertumbuhan masih dikunci oleh transmisi bank yang lamban (Bernanke et al., 1996; BPS 2025).


(prf/ega)