Pendhopo Bersejarah di Sragen Ambruk Saat Renovasi, Mitos Lokal Kembali Mencuat

2026-01-14 02:57:20
Pendhopo Bersejarah di Sragen Ambruk Saat Renovasi, Mitos Lokal Kembali Mencuat
SRAGEN, – Pendhopo bersejarah yang menjadi simbol berdirinya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), di Desa Krikilan, Kecamatan Masaran, ambruk saat sedang menjalani renovasi, Senin pukul 15.45 WIB.Insiden ini kembali memunculkan mitos yang selama ini dipercaya warga setempat terkait bangunan tersebut.Pendhopo itu dikenal sebagai petilasan atau tempat singgah Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika berjuang menghadapi VOC.Mantan Kepala Desa Krikilan periode 1993–2001, Suhardi, menjelaskan bahwa pada tahun 1746 Masehi, Pangeran Mangkubumi datang ke Dukuh Pandak, Karangnongko, dan berikrar membentuk pemerintahan pemberontakan terhadap VOC Belanda.Baca juga: PBB-P2 Sragen Tahun 2026 Dipastikan Tidak NaikIa menyebut bahwa selama perjuangan di Sragen, Mangkubumi mengalami sejumlah kejadian aneh.Salah satunya ketika ia dan ratusan prajurit dijamu warga Sugoto dengan legen dan palawijo.Mangkubumi pun heran karena legen yang hanya satu bubung cukup untuk dikonsumsi ratusan prajuritnya.Ia kemudian bersabda bahwa wilayah tersebut dinamakan Sragen, berasal dari kata Pasrah Legen."Pendhopo itu yang pertama didatangi. Berjuang 10 tahun bersama keponakannya Pangeran Sambernyawa," ujar Suhardi, Selasa .Menanggapi robohnya pendhopo, Suhardi menyebut kemungkinan penyebabnya adalah perpaduan antara faktor teknis dan mitos yang berkembang.Secara teknis, ia menduga ambruknya bangunan akibat beban genting yang terlalu berat serta pemasangan material yang kurang presisi."Secara teknis saya amati, material bangunan lama dan yang baru mungkin secara pemasangan kurang simetris," ujar Suhardi.Namun ia menambahkan bahwa terdapat mitos yang diyakini warga bahwa pendhopo tersebut “tidak mau” diberi atap genting tanah liat.Pendhopo Mangkubumi diketahui telah mengalami tiga kali renovasi sejak dipindahkan dari lokasi lamanya di Dukuh Pandak pada tahun 1994."Sejak 1994 didirikan, direhab itu diberi genting dari kayu, kemudian direhab lagi dari seng. Rehab ketiga ini kok bisa ambruk. Antara mitos dan teknik secara nalar pekerjaannya kurang teliti," tutur dia.Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sragen, Anjarwati Sri Sayekti, menyebut bahwa ambruknya pendhopo terjadi karena material lama masih digunakan sehingga tidak mampu menahan beban atap."Kayu penyangga lama masih kami pertahankan, tidak digantikan yang baru karena dari sisi visual masih kuat, ternyata ya," ujarnya.Anjarwati memastikan material lama akan digantikan material baru yang sesuai dengan konsep bangunan serta kekuatan atap."Genting juga tidak dari tanah liat karena saran dari sesepuh di sana," tutup dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 02:18