Air Hujan di Solo dan Boyolali Tercemar Mikroplastik Capai 125 Partikel per Liter, Ini Bahayanya

2026-01-12 15:38:56
Air Hujan di Solo dan Boyolali Tercemar Mikroplastik Capai 125 Partikel per Liter, Ini Bahayanya
SEMARANG, – Air hujan di Solo dan Boyolali diketahui tercemar mikroplastik.Hasil pengamatan menunjukkan konsentrasi mikroplastik tertinggi berada di Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo, dengan 125 partikel per liter. Bahaya mikroplastik ini bisa berdampak pada kesehatan masyarakat.Temuan itu merupakan hasil observasi Tim Microplastic Hunter dari Ecological Observation dan Wetland Conservation (ECOTON) Foundation pekan ini di lima titik, yakni Jl. Kemuning Solo, Jl. Hassanudin Solo, Jl. Slamet Riyadi Solo, Jl. Tol Ngemplak Boyolali, dan satu titik kontrol dari kota lain.Pendiri Ecoton Foundation, Prigi Arisandi, mengatakan kondisi ini mengkhawatirkan. “Ini sangat mengkhawatirkan. Air hujan yang seharusnya bersih ternyata terkontaminasi mikroplastik,” tutur Pendiri Ecoton Foundation, Prigi Arisandi, usai talkshow bahaya mikroplastik di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, Selasa malam.Baca juga: Air Hujan di Semarang Mengandung Mikroplastik, Warga Harus WaspadaMikroplastik adalah serpihan plastik berukuran sangat kecil, yang berasal dari pecahan sampah plastik, gesekan serat sintetis, hingga residu pembakaran sampah.Partikel ini mudah terbawa angin, hujan, dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan maupun air minum.“Mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan hingga 1 mikron, bisa melayang ratusan kilometer di atmosfer. Semakin banyak sampah dibakar, semakin besar pula risiko hujan mikroplastik,” ucapnya.Prigi menegaskan, bahwa temuan ini harus menjadi alarm bagi masyarakat.Ia menambahkan, fenomena hujan mikroplastik di Solo tidak lepas dari tiga faktor utama.Di antaranya adalah pembakaran sampah terbuka, terutama plastik multilayer dan tekstil sintetis, yang melepaskan serat ke atmosfer.Baca juga: Fenomena Paparan Mikroplastik di Kota Malang, DPRD Dorong Perda Penggunaan Plastik Sekali PakaiLalu, abrasi ban dan rem kendaraan bermotor, seiring padatnya arus lalu lintas di jalur Solo–Boyolali.Terakhir, sampah plastik yang dibuang sembarangan, yang kemudian terurai dan terbawa ke udara serta air hujan.“Ini harus dijadikan warning bagi masyarakat di Semarang. Satu, jangan bakar sampah; kemudian kurangi penggunaan sampah plastik. Kemudian yang ketiga adalah jangan mangap saat hujan, karena hujan akan masuk ke dalam tubuh kita," imbaunya.Dia menuturkan, metode penelitian dilakukan dengan menempatkan wadah aluminium, stainless steel, dan toples kaca berdiameter 35 cm pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1–2 jam di empat lokasi utama dan satu lokasi kontrol.


(prf/ega)