Gratis dan Lepas Stres, Warga Jakarta Pilih Mancing di Kali yang Tercemar Limbah

2026-01-14 15:52:57
Gratis dan Lepas Stres, Warga Jakarta Pilih Mancing di Kali yang Tercemar Limbah
JAKARTA, - Di bawah langit yang sendu, belasan orang tampak duduk termenung di atas tanggul Kali Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk (PIK) 1, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin .Meski duduk bersebelahan, mereka tidak saling mengobrol. Perhatian masing-masing tertuju pada kail pancing yang dilemparkan ke dalam aliran kali.Sebagian pemancing menunggu umpan mereka disambar ikan sambil mengisap rokok dan menyeruput kopi hitam.Baca juga: Hidup dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Limbah PlastikSalah seorang pemancing asal Jakarta Barat, Ilyas (50), mengaku hampir setiap hari libur kerja selalu datang ke Kali Cengkareng Drain untuk memancing ikan demi menghilangkan stres./ SHINTA DWI AYU Bahaya memancing di kali tercemar limbah untuk kesehatan. Senin, ."Kalau di kali bisa ngilangin stres, tapi kalau di empang paling nyari ikan buat keluarga," ungkap Ilyas saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin.Meski peluang mendapatkan ikan lebih banyak di empang, Ilyas mengaku lebih senang memancing di Kali Cengkareng Drain.Menurut dia, memancing di kali memberi pengalaman berbeda karena bisa sambil melihat berbagai aktivitas di sekitar, di antaranya kendaraan yang melintas, pepohonan, serta bercengkrama dengan banyak orang yang menambah relasi dan pengetahuan.Selain itu, memancing di kali tidak dipungut biaya dan tidak dibatasi waktu, berbeda dengan empang yang mengharuskan pemancing membayar dan durasinya terbatas.Meski menjadi lokasi favoritnya, Ilyas menyadari bahwa kali-kali di Jakarta, termasuk Kali Cengkareng Drain, telah lama tercemar limbah.Buruh pabrik itu mengatakan, air Kali Cengkareng Drain kerap berubah warna dan mengeluarkan bau tak sedap."Warna airnya juga berubah-ubah, kadang kalau musim kemarau hitam itu limbah," sambung dia.Ketika air kali sedang menghitam, maka para pemancing akan kesulitan mendapatkan ikan sehingga ia memilih untuk pulang ke rumah atau mencari lokasi lain.Baca juga: Cara Mata Elang Dapat Data Nasabah dengan Mudah dalam Hitungan DetikNamun, jika airnya tak hitam, ia tetap memilih untuk memancing di Kali Cengkreng Drain meski mengetahui kondisi perairannya sudah tercemar.Pemancing lain, Susino (50), juga mengaku sudah memahami bahwa hampir sebagian besar sungai atau kali di Jakarta tercemar limbah.Namun, karena sudah memiliki hobi memancing di kali sejak usia 12 tahun, ia tidak terlalu memedulikan kondisi pencemaran di Cengkareng Drain.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 15:31