BADAI Katrina yang menerjang New Orleans (Negara Bagian Louisiana) Tahun 2005 menjadi legenda dan pelajaran penting manajemen bencana. Bagaimana negara bisa gagap pada saat genting, bahkan untuk badai yang sudah bisa diprediksi.Badai menghantam wilayah ini pada akhir Agustus 2005, puncaknya terjadi sekitar 28-29 Agustus 2005. Sistem tanggul (Levees) saat itu jebol pada beberapa lokasi dan menyebabkan 80 persen wilayah New Orleans terendam.Sistem tanggul ini tersebar melingkari kota dengan ketinggian dinding tanggul bervariasi sekitar 4-5,5 meter dan dirancang untuk menahan badai kategori 3. Ketika badai berskala 5 menerjang kota, beberapa lokasi tanggul tidak mampu menahannya, terutama pada sisi fondasi.Meskipun ada perintah evakuasi, masalah besar saat itu adalah akses pada kendaraan. Jumlah pendudukan saat itu sekitar 490 ribu jiwa dan sebanyak sepertiga rumah tangga tidak memiliki mobil. Evakuasi berjalan tidak tepat waktu.Apa yang sebenarnya ‘tenggelam’ dalam musibah ini? Kepemimpinan, koordinasi dan kejelasan tanggung jawab. Dalam bencana besar ini, ternyata negara ‘tenggelam’ lebih dahulu daripada kotanya.Film tentang badai Katrina berjudul “Katrina Come Hell and High Water” menunjukkan sulitnya memutuskan status bencana. Keputusan administrasi yang terlihat teknis menjadi urusan hidup dan mati.Ternyata penetapan status bukan formalitas birokrasi. Ia akan melibatkan pengerahan besar sumber daya, ketegasan kewenangan, dan kecepatan respons. Ada ungkapan: Siapa yang memutuskan status bencana, dialah yang harus bertanggung jawab.Kita dipertontonkan bagaimana pemerintahan lokal, negara bagian, dan pemerintahan federal saling tarik menarik kewenangan. Ujungnya adalah kelambatan penyelematan warga. Teori kesiapan bencana Katrina telah membongkar ilusi bahwa perencanaan siap menghadapi krisis.Ternyata kesiapan, dokumen yang dirancang, prosedur baku, skenario darurat itu hanya dalam kondisi normal. Seperti dikatakan pendudukan New Orleans, “ketika 80 persen wilayah terendam banjir, maka tidak ada blue print, jelas tidak ada blue print”.Warga diarahkan dan sebagian dievakuasi di superdome/stadion sebagai tempat aman terakhir bagi yang tidak bisa mengungsi. Sekitar 15 ribu-25 ribu orang berdesakan di gedung itu tanpa logistik yang mencukupi. Negara baru bergerak dalam skala penuh bukan pada saat bencana terjadi, namun hampir satu minggu setelahnya, ketika krisis kemanusian sudah memburuk.Krisis kemanusiaan adalah hitungan jam bukan hari. Dalam situasi bencana, air bersih setidaknya kritis dalam 24-48 jam, makanan 48-72 jam, sanitasi dan kesehatan terutama wabah muncul setelah hari ketiga. Situasi yang tidak terbayangkan.Pasca Katrina, New Orleans jauh lebih siap. Sistem perlindungan banjir dibangun ulang. Tanggul dibuat lebih tinggi, pintu air dan pompa berkapasitas besar dipasang. Ketika badai Ida datang tahun 2021 yang berkekuatan setara Katrina, tanggul tidak jebol dan kota tidak terendam lagi.Kesiapan teknis sudah diperbaiki, yang tersisa hanyalah kerentanan sosial terutama bagi warga miskin tanpa akses kendaraan dan evakuasi.Baca juga: Pembenahan Sistem Pengelolaan BencanaIndonesia yang hidup berdampingan dengan risiko bencana banjir, gempa bumi, letusan gunung api adalah pola berulang. Respons yang kita saksikan umumnya menunjukkan gejala yang sama, lambat.Indonesia sudah memiliki undang-undang, rencana penanggulangan bencana, peta-peta rawan bencana. Namun penetapan status bencana menjadi urusan hitung-hitungan anggaran, saling mengandalkan baik pusat maupun daerah. Akhirnya, masyarakat menanggung biaya sosial yang besar.Katrina mengajarkan pada ujian kepemimpinan publik. Dalam situasi krisis, kejelasan komando sangat menentukan tinimbang prosedur berjenjang birokrasi di kala normal. Pelajaran terpenting bukan logistik dan infrastruktur, namun tentang desain pengambilan keputusan. Kesiapan bencana paling baik ketika diuji pada situsi yang paling buruk.Baca juga: Prabowo Mau Papua Ditanam Sawit, Dewan Adat Papua: Kami Tak Mau Warisi Bencana ke Anak-Cucu
(prf/ega)
Negara yang Tenggelam Lebih Dulu dari Kotanya
2026-01-12 12:57:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 13:18
| 2026-01-12 12:55
| 2026-01-12 10:56
| 2026-01-12 10:35










































