Gigih Bertahan Dalam Kekeliruan

2026-01-12 18:49:27
Gigih Bertahan Dalam Kekeliruan
SATU di antara sekian banyak hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi adalah pada dasarnya manusia tidak suka disadarkan bahwa dirinya keliru. Maka wajar jika sang pembuat kekeliruan melakukan perlawanan demi membuktikan bahwa dirinya tidak keliru.Misalnya istilah “salah satu” pada hakikatnya keliru sebab yang satu justru bukan yang salah tetapi yang benar. Namun fakta membuktikan bahwa masyarakat tetap gigih menggunakan istilah “salah satu” padahal sebenarnya mudah diganti istilah yang lebih benar yaitu “satu di antara” seperti yang saya gunakan pada kalimat awal naskah ini.Pada masa Orba, Presiden Soeharto memberi nama Bina Graha bagi gedung kerja beliau di sisi kanan jika dipandang dari dalam atau kiri jika dipandang dari luar Istana Kepresidenan di Jakarta.Berulang kali saya berupaya mengingatkan bahwa istilah gedung dalam bahasa Sanskerta bukan Graha namun Grha sebab Graha berarti buaya. Namun pada masa Orba, jelas Pak Harto yang presiden dianggap lebih benar ketimbang saya yang cuma rakyat jelata belaka. Baru setelah Orba digantikan oleh Orde Reformasi, maka satu per satu gedung-gedung pemerintah dan BUMN mulai tidak lagi menggunakan istilah Graha namun Grha.Kata kiasan jatuh hati, patah hati, iri hati, hati berdebar, pada hakikatnya keliru akibat Aristoteles terlanjur keliru menduga bahwa pusat perasaan berada di hati. Kini kita semua tahu bahwa pusat perasaan berada di otak beserta segenap jaringan sarafnya. Namun istilah jatuh otak, patah otak, iri otak, otak berdebar jelas terkesan lebih tidak romantis ketimbang jatuh hati, patah hati, iri hati , hati berdebar.Judul lagu mahaindah Di Bawah Sinar Bulan Purnama jelas keliru sebab rembulan bukan bintang, maka tidak bersinar. Namun terasa bahwa yang keliru itu lebih indah ketimbang yang benar yaitu Di Bawah Pantulan Sinar Matahari Di Permukaan Rembulan.Ketika saya berupaya mengoreksi terminologi "Konsumerisme" yang di Indonesia dianggap bermakna perilaku konsumtif berlebihan, maka saya dihujat oleh mereka yang merasa dirinya benar sebagai oknum sok pintar. Apalagi Kamus Besar Bahasa Indonesia juga membenarkan kekeliruan publik dengan memaknakan Konsumerisme sebagai perilaku konsumtif berlebihan.Pada kenyataan Konsumerisme sebenarnya berarti gerakan melindungi kepentingan konsumen yang diprakarsai oleh Ralph Nader pada masa kepresidenan John F. Kennedy di Amerika Serikat. Menarik bahwa kemudian KBBI bersikap ambigu demi main aman dengan memaknakan Konsumerisme sebagai gerakan melindungi kepentingan konsumen sekaligus perilaku konsumtif berlebihan. Maka koreksi saya tenggelam oleh gelombang keyakinan masyarakat bahwa konsumerisme adalah perilaku konsumtif berlebihan .Ulang Tahun jelas keliru sebab sebelum teknologi mesin waktu ditemukan mustahil tahun bisa diulang. Yang lebih benar adalah istilah Hari Kelahiran sama halnya Birthday dalam bahasa Inggris atau Geburtstag dalam bahasa Jerman. Namun fakta membuktikan secara tak terbantahkan bahwa pada saat seorang insan manusia merayakan hari kelahirannya maka sanak-keluarga dan teman-teman semua serentak berpadu-suara menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.Istilah pulang-pergi pada hakikatnya keliru atau minimal kurang tepat, sebab logikanya adalah pergi dulu baru pulang, bukan pulang dulu baru pergi. Namun mayoritas tetap merasa lebih nyaman berkat sudah terbiasa salah-kaprah bilang pulang-pergi bukan pergi-pulang.Selalu ada saja yang masih menyebut air minum sebagai air putih, padahal warna air minum bukan putih tetapi bening. Yang lebih layak disebut air putih adalah air susu atau air dengan larutan kapur.Namun dalam suasana serba kekaprahan memang wajar bahwa manusia gigih bertahan dalam kekeliruan ketimbang kebenaran. Jika dicari apalagi dicari-cari, ibarat kuman di seberang lautan tampak, gajah di depan mata tak tampak, pasti ditemukan kekeliruan-kekeliruan tata bahasa maupun susunan kalimat serta semantika yang saya lakukan di dalam naskah sederhana yang sedang anda baca ini.


(prf/ega)