Ketika Tanaman Hidroponik Selamatkan Warga dari Tunggakan Sewa Rusun Marunda

2026-01-12 16:40:30
Ketika Tanaman Hidroponik Selamatkan Warga dari Tunggakan Sewa Rusun Marunda
JAKARTA, - Tinggal di rumah susun (rusun) dengan biaya sewa kurang dari Rp 1 juta, tidak menjamin membuat penghuninya terbebas dari tunggakan retribusi per bulan.Hal tersebut yang banyak dialami warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda di Cilincing, Jakarta Utara, yang terpaksa menunggak biaya sewa rusun karena tak memiliki pendapatan yang pasti.Pada Februari 2025, data dari Dinas Perumahan Jakarta menyebut bahwa penghuni menunggak sewa terbanyak berada di Rusunawa Marunda.Untuk masyarakat terprogram sebanyak 1.552 unit dengan besaran tunggakan Rp 10,8 Miliar. Sementara masyarakat umum sebanyak 773 unit dengan besaran tunggakan Rp 8,8 Miliar."Tunggakan penghuni Rusunawa Marunda terhitung sejak tahun 2010, di mana terdapat penghuni yang masuk katergori masyarakat terperogram sejak menempati rusunawa tidak melakukan pembayaran retribusi sewa rusunnya," tutur Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, Kelik Indriyanto, Jumat .Baca juga: Menata Ulang Rusunawa Marunda di Tengah Bayang Penjarahan yang Belum UsaiOleh karena itu, Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) II Rusunawa Marunda Bahrudin langsung mencari berbagai cara agar para penghuni bisa melunasi tunggakan tersebut./ SHINTA DWI AYU Rusunawa Marunda disiapkan menjadi desa wisata dengan berbagai destinasi.Salah satu cara yang dilakukan Bahrudin adalah dengan mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang ada di Rusunawa Marunda, salah satunya adalah Green House.Green house sendiri merupakan tempat budi daya sayuran hidroponik yang dikelola oleh warga Rusunawa Marunda.Salah satu warga yang ikut program pemberdayaan Green House adalah Supriadi (44). Kemampuannya dalam bercocok tanam membuat ia terpilih menjadi Kepala Green House dan dipekerjakan sebagai PJLP Rusunawa Marunda.Supriadi mengaku, dengan bekerja sebagai Kepala Green House, ia jadi memiliki pendapatan yang pasti setiap bulannya."Sekarang karena masuk UPRS yang digaji per bulan UMR, jadi enggak menunggak (biaya) sewa lagi, kerjanya juga dekat," ucap Supriadi saat diwawancarai Kompas.com di Rusunawa Marunda, Rabu .Baca juga: Menata Ulang Rusunawa Marunda: Sempat Dijarah, Kini Bakal Direvitalisasi hingga 2027Sebelum bekerja sebagai Kepala Green House Rusunawa Marunda, ia berprofesi sebagai pedagang roti keliling dan pendapatannya tak pasti. Hal tersebut lah yang membuat Supriadi sering menunggak biaya sewa rusun meski hanya Rp 500.000 per bulannya."Bahkan, pernah menunggak sampai Rp 5 juta lebih," ujar Supriadi.Oleh karena itu, Supriadi merasa begitu terbantu dengan adanya program pemberdayaan Green House Rusunawa Marunda tersebut.Kini, Green House yang dikelola Supriadi bersama beberapa warga lainnya terus berkembang pesat.Pengamatan Kompas.com di lokasi, Green House tersebut memiliki luas sekitar 800 meter per segi yang sekelilingnya ditutup dengan jaring dan di atasnya bergenteng fiber bening.Baca juga: Pengelola Lega, Rusunawa Marunda Direvitalisasi Setelah Terbengkalai dan DijarahBerbagai jenis sayuran mulai dari pakcoi, salada, sawi, kangkung, dan lainnya, ditanami di atas plavon yang sudah dilubangi.Meski berada di dalam ruangan semi outdoor, sayuran yang ditanam warga Rusunawa Marunda terlihat tumbuh subur dan sangat segar.Tidak hanya mengembangkan berbagai jenis sayuran yang ditanam, sebagai pengelola Bahrudin juga mencari cara bagaimana produk dari Green House tersebut dipasarkan.


(prf/ega)