Bukit Sampah Setinggi 70 Meter di Bantargebang, Alarm Krisis Pengelolaan Sampah Jakarta

2026-01-11 14:40:52
Bukit Sampah Setinggi 70 Meter di Bantargebang, Alarm Krisis Pengelolaan Sampah Jakarta
BEKASI, – Gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Ciketing Udik, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, kian menjulang dan mendominasi lanskap kawasan.Timbunan sampah yang terus bertambah ini menjadi gambaran nyata tekanan serius terhadap sistem pengelolaan sampah Jakarta yang mendekati batas kapasitasnya.Dari pantauan di lokasi, tinggi timbunan sampah di sejumlah zona landfill diperkirakan telah mencapai sekitar 70 meter, menyerupai bukit buatan yang membentang luas.Gunungan tersebut terlihat mencolok dari kejauhan dan menjadi penanda beban pengelolaan sampah yang terus menumpuk dari hari ke hari.Baca juga: Bukannya Diangkut, Tumpukan Sampah di Ciputat Tangsel Malah Ditutupi TerpalSaat Kompas.com menelusuri kawasan TPST Bantargebang pada Jumat , gunungan sampah sudah terlihat jelas dari jarak sekitar 150 meter sebelum memasuki gerbang utama, tepatnya dari arah Jalan Pangkalan V.Dari kejauhan, hamparan sampah tampak membentuk kontur berundak, dengan bagian puncak tertutup lembaran plastik geomembran dan sebagian lainnya ditumbuhi vegetasi hijau.Memasuki area dalam TPST, kondisi lapangan menunjukkan aktivitas pengelolaan sampah masih berlangsung intens.Jalan beton yang menjadi akses utama kendaraan pengangkut sampah dipenuhi sisa-sisa material plastik, genangan air lindi berwarna gelap, serta bau menyengat yang tercium kuat, terutama di titik-titik dekat tumpukan terbuka.Di sisi kiri dan kanan jalur operasional, sampah anorganik seperti plastik, karung, dan sisa kemasan menumpuk tanpa penutup.Beberapa area terlihat ditutupi terpal hitam dan biru, sementara di bagian lain timbunan sampah dibiarkan terbuka. Pada sejumlah titik, aliran air bercampur lindi menggenang di jalur kendaraan, menciptakan kondisi licin dan berlumpur.Di lereng gunungan sampah, alat berat seperti ekskavator terlihat bekerja meratakan dan memadatkan timbunan. Aktivitas ini membentuk lapisan-lapisan sampah yang disusun bertahap menyerupai terasering.Baca juga: Nestapa Warga Tangsel, Hidup di Antara Sampah dan Bau MenyengatNamun, tingginya timbunan membuat jarak pandang ke puncak landfill semakin terbatas dari bawah, mempertegas skala persoalan sampah yang ditampung di lokasi ini.Menariknya, sebagian puncak dan lereng gunungan sampah tampak menghijau. Vegetasi berupa semak dan rerumputan tumbuh di atas lapisan landfill yang telah lama tertutup.Dari pengamatan visual, penghijauan ini tidak merata. Di satu sisi terlihat hijau, sementara di sisi lain masih didominasi warna cokelat keabu-abuan sampah terbuka.Di beberapa zona, pagar beton tinggi membatasi area landfill dengan jalur operasional. Tumpukan sampah tampak mendekati batas pagar, menunjukkan tekanan kapasitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu.Pengepul limbah plastik di kawasan TPST Bantargebang, Andi (33), menggambarkan kondisi timbunan sampah yang menurutnya sudah berada pada level mengkhawatirkan.Ia menyebutkan, ketinggian gunungan sampah di sejumlah zona landfill kini menyerupai bukit buatan.“Ini kira-kira tiga kali pohon kelapa, bisa 70-an meter,” kata Andi saat ditemui langsung.Baca juga: Efek Domino TPA Cipeucang: Warga Kebanjiran, Tumpukan Sampah Tak TerangkutMenurut dia, ketinggian tersebut membuat ruang pembuangan semakin terbatas dan pengelolaan sampah menjadi tidak lagi leluasa.Tekanan terhadap zona landfill terasa semakin nyata, terutama ketika volume sampah yang masuk tidak pernah surut.Andi menjelaskan, pada awalnya TPST Bantargebang memiliki sekitar tujuh hingga delapan zona pembuangan. Namun, seiring meningkatnya volume sampah, konfigurasi zona mengalami perubahan.“Tadinya ada sekitar tujuh atau delapan, cuma sekarang ada beberapa zona yang dijadiin satu dan dibikin jalan,” ujarnya.Penyempitan dan penggabungan zona ini berdampak langsung pada kelancaran pembuangan sampah dari truk-truk yang datang setiap hari. Ruang gerak semakin terbatas, sementara arus sampah terus mengalir tanpa henti.Menurut Andi, kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi juga membuat risiko longsor sulit dihindari. Ia menyinggung peristiwa longsor yang terjadi di salah satu blok landfill beberapa waktu lalu.“Sampahnya turun kayak longsor tanah aja dari gunung,” kata Andi.Baca juga: Wali Kota Tangsel Ungkap Alasan Sampah Menumpuk dan Tak DiangkutIa menyebutkan. salah satu titik longsor terjadi di Blok Adang, sementara lokasi tempat ia beraktivitas relatif lebih aman dan belum pernah mengalami kejadian serupa.


(prf/ega)