Wamen Stella Sebut yang Perlu Belajar AI Orang Berusia 30 Tahun ke Atas

2026-01-12 23:35:54
Wamen Stella Sebut yang Perlu Belajar AI Orang Berusia 30 Tahun ke Atas
- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti saintek) Stella Christie berpendapat bahwa seharusnya yang belajar tentang AI bukanlah anak-anak tetapi orang dewasa."Saya pikir kita yang berusia 30 tahun ke atas, sebaiknya belajar tentang AI. Karena kita perlu mengetahui teknologi-teknologi tersebut agar kita tidak digantikan oleh teknologi-teknologi tersebut dalam pekerjaan kita saat ini," kata Wamen Stella saat acara 2025 International Symposium on ECED yang diselenggarakan Tanoto Foundation di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu .Ia justru ragu AI akan bermanfaat bagi anak-anak."Tetapi untuk anak-anak, saya rasa tidak (perlu). Karena jika Anda mengajari anak-anak untuk menjadi seperti AI, mereka tidak akan pernah lebih baik daripada AI. Oleh karena itu, mereka akan digantikan," sambungnya.Baca juga: Alasan Wamen Stella Tak Mau Tulis Buku tentang Coding dan AI untuk AnakLebih lanjut, kata Wamen Stella, di era kecerdasan buatan ini ada dua pertanyaan penting."Yang pertama, apa sebenarnya kelebihan dari manusia? Yang kedua, bagaimana kita bisa mengayomi dan mengajarkan kelebihan manusia tersebut kepada anak kita," tuturnya."Keunggulan manusia adalah kemampuan kita untuk belajar dengan sangat efisien dan menggeneralisasi apa yang kita pelajari," imbuhnya atas jawaban dari dua pertanyaan tersebut.Usai acara, Wamen Stella menuturkan materi belajar AI dan coding yang cocok untuk anak-anak tentunya bukan mengajari mereka membuat kedua hal tersebut.Menurutnya yang bisa diajarkan adalah struktur-struktur apa dalam coding yang bisa digunakan."Karena struktur itu, di masalah-masalah yang baru yang kita temui, biasanya itu strukturnya sama. Jadi kelihatannya masalahnya beda, tetapi sebenarnya didalamnya struktur yang sama," jelas Stella."Orang yang bisa melihat struktur, itu akan mampu mecahkan masalah-masalah yang kelihatannya baru, tapi sebenarnya didalamnya sama. Itu penting sekali," lanjutnya.Baca juga: Wamen Stella Bahas Frequency Bias di Kasus Whoosh, Ungkap 3 Analisa KeuntungannyaCyberprogrammers.net Ilustrasi coding.Wamen Stella juga sempat mengajukan pertanyaan kepada audiens di awal perbincangan apakah mau jika otak anak-anak digantikan dengan AI.Ia mengingatkan bahwa anak-anak akan tergantikan oleh AI jika orangtua mereka bertindak seperti AI.Maka agar tak tergantikan, orangtua harus memiliki kemampuan untuk mengajar anak mereka di luar yang AI bisa.Kemudian ibu dari seorang putra ini memaparkan hasil penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat.Para peneliti meminta mahasiswa-mahasiswa dari Harvard University, MIT, dan Wellesley College untuk membuat esai selama empat bulan.Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok yang boleh mengerjakan tugas tersebut dengan LLM (fitur AI) apapun, kelompok yang boleh menggunakan mesin pencari (search engine) tetapi tidak boleh memakai LLM, dan kelompok yang hanya boleh menggunakan kemampuan otak.Baca juga: Kuliah di China Makin Digemari Orang Indonesia, Wamen Stella Beberkan SebabnyaHasilnya kelompok pengguna LLM konsisten menunjukkan kinerja yang buruk pada aspek neural, linguistik, dan perilaku.


(prf/ega)