Airlangga Usul ke Prabowo Penerapan Skema WFA pada 29-31 Desember 2025

2026-01-13 10:14:56
Airlangga Usul ke Prabowo Penerapan Skema WFA pada 29-31 Desember 2025
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan usulan skema work from anywhere (WFA) pada periode Natal dan Tahun Baru 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto. Airlangga menyebut WFA perlu diterapkan untuk mengoptimalkan mobilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal akhir tahun.Hal itu disampaikan Airlangga langsung kepada Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025).Airlangga menyebut potensi pergerakan pada libur Nataru ini tidak jauh berbeda pada libur Lebaran 2025."Libur anak-anak sekolah tanggal 22 sampai tanggal 3. Oleh karena itu kami usulkan, jumlah perjalanan selama libur pada waktu lebaran sebanyak 140 juta perjalanan. Dan di Desember ini diperkirakan bisa di atas 100 juta," kata Airlangga.Oleh karena itu, dia mengusulkan para pekerja yang tetap bekerja pada periode 29-31 Desember dapat diterapkan skema WFA. Hal itu untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi di akhir tahun."Oleh karena itu kami usulkan tanggal 29, 30, 31 (Desember) yang di antara libur, Pak. Kami usulkan untuk work from anywhere and everywhere," ujarnya.Simak Video 'Prabowo Tepuk Tangan saat Airlangga Usul Pekerja WFA 29-31 Desember':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-13 09:50